Daftar Isi

Bentuk Pertanyaan Yang Harus Dihindari Pewawancara

Daftar Isi
Terima insight SDM terbaru, langsung via email mingguan
Newsletter

Dengan klik tombol Berlangganan, saya menyetujui untuk menerima email berita dan pemberitahuan dari Magnet Solusi Integra.

Ikuti akun media sosial resmi Magnet Solusi Integra
sebagai pewawancara harus menghindari pertanyaan yang

Dalam proses wawancara, ada beberapa jenis pertanyaan yang sebaiknya dihindari oleh pewawancara untuk menjaga profesionalisme, kepatuhan hukum, dan kenyamanan kandidat.

Pertanyaan yang bersifat diskriminatif, seperti yang berkaitan dengan agama, ras, jenis kelamin, orientasi seksual, usia, status pernikahan, atau kondisi kesehatan yang tidak relevan dengan pekerjaan, harus dihindari karena melanggar prinsip kesetaraan kesempatan kerja.

Selain itu, pertanyaan yang terlalu pribadi, seperti kehidupan keluarga atau pandangan politik, dapat membuat kandidat merasa tidak nyaman dan tidak relevan dengan kompetensi mereka.

Pewawancara juga sebaiknya menghindari pertanyaan yang menilai secara negatif pengalaman kerja sebelumnya, misalnya, “Mengapa Anda gagal di pekerjaan terakhir Anda?” karena dapat menciptakan suasana yang tidak kondusif.

Fokuslah pada pertanyaan yang relevan dengan keterampilan, pengalaman, dan potensi kandidat untuk memastikan wawancara berjalan secara profesional dan produktif.

Baca Juga: 15 Cara Merekrut Karyawan Yang Berkualitas Untuk Perusahaan!

Sebagai Pewawancara Harus Menghindari Pertanyaan Yang?

sebagai pewawancara harus menghindari pertanyaan yang

Sebagai pewawancara, sangat penting untuk menjaga profesionalisme, etika, dan relevansi selama proses wawancara.

Pertanyaan yang diajukan harus difokuskan pada penilaian kemampuan, pengalaman, dan kesesuaian kandidat terhadap posisi yang dilamar.

Namun, ada jenis pertanyaan tertentu yang sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan, dianggap diskriminatif, atau bahkan melanggar hukum.

Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis pertanyaan yang harus dihindari oleh pewawancara:

1. Pertanyaan yang Diskriminatif

Sebagai pewawancara, Anda tidak boleh menanyakan hal-hal yang bersifat diskriminatif terhadap kandidat. Ini mencakup pertanyaan yang berkaitan dengan:

Ras atau Etnis

Contoh: “Apa latar belakang etnis Anda?” atau “Apakah Anda berasal dari kelompok tertentu?”

Agama

Contoh: “Agama apa yang Anda anut?” atau “Apakah Anda memiliki kewajiban ibadah tertentu yang bisa mengganggu jam kerja?”

Jenis Kelamin dan Orientasi Seksual

Contoh: “Apakah Anda berencana menikah dalam waktu dekat?” atau “Apakah Anda seorang LGBTQ?”

Status Pernikahan dan Kehamilan

Contoh: “Apakah Anda sudah menikah?” atau “Apakah Anda berencana memiliki anak dalam waktu dekat?”

Kondisi Fisik atau Kesehatan

Contoh: “Apakah Anda memiliki penyakit tertentu?” atau “Seberapa sering Anda sakit?”

Pertanyaan ini melanggar hak-hak pribadi kandidat dan dapat menimbulkan bias dalam proses seleksi.

Dalam banyak yurisdiksi, menanyakan hal-hal seperti ini juga melanggar hukum ketenagakerjaan.

2. Pertanyaan yang Tidak Relevan dengan Pekerjaan

Pertanyaan yang tidak berhubungan langsung dengan tanggung jawab atau kualifikasi pekerjaan sebaiknya dihindari.

Misalnya:

  • “Apa hobi Anda di luar pekerjaan?”
  • “Siapa selebriti favorit Anda?”
  • “Apakah Anda suka traveling?”

Pertanyaan semacam ini tidak memberikan informasi yang relevan tentang kemampuan kandidat dalam menjalankan tugas pekerjaan.

Selain itu, pertanyaan ini dapat memberikan kesan bahwa pewawancara tidak serius atau tidak menghormati waktu kandidat.

3. Pertanyaan yang Terlalu Pribadi

Hindari bertanya hal-hal yang melampaui batas privasi kandidat. Contoh:

  • “Berapa penghasilan pasangan Anda?”
  • “Apakah Anda memiliki utang atau kewajiban finansial lainnya?”
  • “Apakah Anda pernah mengalami masalah keluarga?”

Pertanyaan pribadi dapat membuat kandidat merasa tidak nyaman dan menimbulkan kesan bahwa perusahaan tidak profesional.

4. Pertanyaan yang Menjebak atau Merendahkan

Pertanyaan yang dirancang untuk menjebak kandidat atau membuat mereka merasa kecil juga tidak boleh diajukan.

Contoh:

  • “Kenapa Anda gagal di pekerjaan sebelumnya?”
  • “Apa alasan atasan Anda tidak merekomendasikan Anda?”
  • “Apakah Anda yakin mampu bekerja di posisi ini meskipun pengalaman Anda terbatas?”

Tujuan wawancara adalah untuk mengevaluasi kandidat secara objektif, bukan untuk menciptakan suasana intimidasi.

Pertanyaan seperti ini dapat menurunkan kepercayaan diri kandidat dan menciptakan suasana negatif.

5. Pertanyaan yang Melanggar Privasi Kandidat di Media Sosial

Bertanya tentang aktivitas kandidat di media sosial, seperti:

“Apakah Anda memiliki akun media sosial pribadi? Boleh saya lihat?”

“Apa pendapat Anda tentang postingan tertentu di profil Anda?”

Meskipun media sosial dapat menjadi cerminan kepribadian kandidat, bertanya tentang aktivitas pribadi mereka di luar konteks profesional dapat dianggap melanggar privasi.

6. Pertanyaan tentang Gaji di Pekerjaan Sebelumnya (di Beberapa Negara)

Di beberapa wilayah, seperti negara-negara bagian tertentu di Amerika Serikat, menanyakan gaji kandidat di pekerjaan sebelumnya dianggap ilegal.

Contoh:

  • “Berapa gaji Anda di perusahaan sebelumnya?”
  • “Berapa penghasilan Anda sekarang?”

Pertanyaan seperti ini dapat menciptakan ketimpangan gaji berdasarkan pengalaman kandidat sebelumnya. Lebih baik fokus pada kisaran gaji yang sesuai dengan posisi yang ditawarkan.

7. Pertanyaan yang Memancing Jawaban Subjektif Tanpa Tujuan Jelas

Beberapa pertanyaan dapat membingungkan kandidat dan tidak memberikan informasi konkret kepada pewawancara.

Contoh:

  • “Jika Anda adalah hewan, Anda akan menjadi hewan apa?”
  • “Apa warna favorit Anda, dan mengapa?”

Pertanyaan ini sering kali tidak memberikan wawasan yang berarti tentang kemampuan atau kinerja kandidat.

Mereka justru dapat membuat wawancara terasa tidak relevan dan kurang profesional.

Baca Juga: Apa Itu Tes Psikologi? Ketahui Apa Saja Jenis & Tujuannya!

Prinsip Penting dalam Bertanya

sebagai pewawancara harus menghindari pertanyaan yang

Untuk memastikan wawancara berjalan dengan baik, pewawancara sebaiknya mematuhi prinsip berikut:

Fokus pada Kompetensi

Ajukan pertanyaan yang relevan dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaan.

Hindari Bias

Jangan menanyakan hal-hal yang dapat mengungkapkan prasangka terhadap gender, usia, ras, atau faktor lainnya.

Hargai Privasi Kandidat

Jangan melampaui batas privasi atau membuat kandidat merasa tidak nyaman.

Taat Hukum

Pastikan pertanyaan sesuai dengan hukum ketenagakerjaan di wilayah Anda.

Dengan menghindari jenis pertanyaan yang disebutkan di atas, pewawancara dapat menciptakan proses wawancara yang adil, profesional, dan berfokus pada penilaian kemampuan kandidat secara objektif.

Hal ini tidak hanya meningkatkan citra perusahaan tetapi juga membantu menarik kandidat berkualitas untuk bergabung.

Jika Anda atau perusahaan Anda membutuhkan bantuan dalam proses rekrutmen atau asesmen untuk meningkatkan kualitas SDM, kami menyediakan solusi yang mudah dan efektif melalui layanan asesmen SDM kami.

Layanan ini dirancang untuk membantu Anda menemukan, mengevaluasi, dan mengembangkan talenta terbaik sesuai kebutuhan perusahaan.

Kami juga menawarkan konsultasi gratis untuk memahami kebutuhan spesifik Anda dan memberikan rekomendasi terbaik.

Beritahukan kebutuhan Anda dengan mengklik tombol di bawah ini, dan tim kami akan siap membantu Anda mencapai tujuan rekrutmen dan pengelolaan SDM secara efisien.👇

Picture of Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog  <strong>CEO</strong>
Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog CEO

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari 20+ tahun di bidang rekrutmen dan pengembangan SDM.

Artikel terbaru
Komentar

Comments are closed.

Bangun SDM Unggul dan Adaptif Secara Tepat Sasaran

Melalui solusi #ElevatingPeopleEmpoweringBusiness, konsultasikan secara gratis bagaimana program kami dapat membantu tim dan perusahaan Anda tumbuh lebih cepat.

Pelajari Arah Transformasi Pengelolaan SDM untuk Penguatan Kinerja Organisasi
Dokumen ini membantu memahami dinamika pengelolaan SDM, budaya organisasi, dan penguatan kapabilitas insan dalam mendukung kinerja organisasi.