Daftar Isi

Flexible Working Arrangement: Definisi, 3 Tipe & Manfaat

Daftar Isi
Terima insight SDM terbaru, langsung via email mingguan
Newsletter

Dengan klik tombol Berlangganan, saya menyetujui untuk menerima email berita dan pemberitahuan dari Magnet Solusi Integra.

Ikuti akun media sosial resmi Magnet Solusi Integra
flexible working arrangement

Ada satu kalimat menarik yang saya dengar dari seorang CEO muda: “Kita hidup di dunia yang berubah cepat, tapi masih terikat jam kerja ala pabrik zaman Revolusi Industri.”

Saya pikir dia sedang bercanda. Tapi ternyata tidak. Karena saat itu, yang sedang dia bicarakan adalah soal Flexible Working Arrangement, atau pengaturan kerja yang fleksibel.

Topik ini memang makin sering dibicarakan, apalagi setelah pandemi. Dunia kerja tiba-tiba dipaksa untuk mencoba hal-hal baru. Bekerja dari rumah, koordinasi via Zoom, laporan mingguan cukup lewat Google Docs. Dan hebatnya, banyak perusahaan tetap jalan.

Bahkan, sebagian karyawan merasa lebih produktif. Lalu pertanyaannya: kalau ternyata bisa lebih fleksibel dan tetap jalan, kenapa harus kembali ke cara lama?

Baca Juga: Ketahui 10+ Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan

flexible working arrangement

Apa Itu Flexible Working Arrangement?

Flexible Working Arrangement (FWA) sebenarnya bukan hal baru. Tapi perhatian terhadapnya melonjak tinggi ketika COVID-19 datang. FWA adalah pola kerja yang memberikan keleluasaan pada karyawan untuk mengatur waktu, tempat, atau cara kerja, tanpa mengorbankan output dan tanggung jawab pekerjaan.

Ada banyak bentuk FWA. Mulai dari flextime (jam masuk dan pulang yang fleksibel), remote working (kerja dari mana saja), compressed workweek (misalnya, kerja 4 hari tapi jamnya lebih panjang), sampai job sharing (satu pekerjaan dibagi dua orang). Semuanya memiliki tujuan yang sama: memberi ruang bagi karyawan untuk bekerja dengan cara yang paling cocok dengan kehidupannya.

Kenapa Flexible Working Arrangement Makin Diperlukan?

Jawaban sederhananya: karena manusia juga berubah.

Dulu, kerja itu ya datang pagi, pulang sore, duduk di kantor, pakai seragam. Tapi sekarang, hidup orang makin kompleks. Orang tua muda harus mengantar anak sekolah.

Generasi sandwich harus menyesuaikan waktu merawat orang tua. Dan yang tidak kalah penting: kita mulai sadar, kesehatan mental juga perlu dijaga.

FWA memberi napas. Memberi ruang gerak. Dan yang mengejutkan: banyak riset menunjukkan bahwa ketika orang punya kontrol lebih atas cara kerjanya, produktivitas justru naik. Ini bukan omong kosong.

Laporan dari Harvard Business Review, McKinsey, hingga Gartner konsisten menyebutkan bahwa fleksibilitas adalah salah satu faktor utama retensi dan kepuasan kerja hari ini.

Baca Juga: Analisis Beban Kerja untuk Meningkatkan Kinerja

3 Tipe Flexible Working Arrangement

Meski bentuk fleksibilitas bisa sangat beragam, ada tiga tipe utama FWA yang paling banyak dipakai di dunia kerja saat ini. Ketiganya bisa diadopsi secara bertahap atau dikombinasikan sesuai kebutuhan organisasi. Tapi mari kita bahas satu per satu, karena setiap tipe membawa filosofi kerja yang agak berbeda.

1. Flextime

Flextime atau waktu kerja fleksibel adalah bentuk FWA yang paling ringan dan paling mudah diterapkan. Sederhananya: karyawan diberi keleluasaan untuk memilih jam mulai dan jam selesai kerja, selama total jam hariannya tetap terpenuhi.

Misalnya, seseorang bisa memilih mulai kerja jam 7 pagi dan pulang jam 3 sore, sementara rekan kerjanya memilih mulai jam 10 dan selesai jam 6. Keduanya tetap bekerja 8 jam, tetap produktif, hanya beda waktu. Bagi banyak karyawan, ini sangat membantu. Terutama mereka yang harus antar jemput anak sekolah, menghindari macet, atau punya ritme kerja terbaik di jam-jam tertentu.

Tapi tentu saja, tidak semua posisi cocok untuk full flextime. Ada pekerjaan yang mengandalkan koordinasi real-time. Maka solusinya bisa dengan membuat core hours, yakni jam-jam wajib online bersama (misalnya jam 10.00–14.00), sisanya bisa fleksibel. Ini kompromi yang cukup ideal bagi banyak tim lintas fungsi.

Flextime pada dasarnya adalah latihan awal dalam mengelola kepercayaan. Perusahaan belajar memberi ruang, karyawan belajar mengelola tanggung jawab. Jika berhasil, ini bisa jadi pondasi bagi fleksibilitas yang lebih luas.

2. Remote Working

Tipe FWA kedua adalah yang paling populer sejak pandemi: remote working. Artinya, karyawan tidak harus hadir secara fisik di kantor. Mereka bisa bekerja dari rumah, kafe, coworking space, bahkan dari luar kota, selama pekerjaan bisa dijalankan dengan baik.

Remote working membuka pintu untuk bekerja dari mana saja. Tapi di balik kemudahannya, ada tantangan besar. Komunikasi bisa jadi hambatan. Kolaborasi bisa lebih rumit. Dan rasa kebersamaan dalam tim bisa perlahan memudar kalau tidak dijaga.

Oleh karena itu, remote working bukan sekadar soal “boleh kerja dari rumah.” Tapi perlu disertai sistem yang jelas: bagaimana menyampaikan progres kerja, kapan harus tersedia online, bagaimana mengatur pertemuan rutin, dan bagaimana menjaga keterlibatan tim.

Beberapa perusahaan menerapkan sistem hybrid, yaitu kombinasi antara kerja dari kantor dan kerja remote. Misalnya, 3 hari di kantor, 2 hari remote. Ini dianggap sebagai jembatan terbaik antara fleksibilitas dan koneksi tim. Tapi yang paling penting: komunikasi harus transparan, dan kepercayaan harus jadi mata uang utama.

Remote working juga membuka potensi baru: rekrutmen tanpa batas geografis. Perusahaan bisa merekrut talenta terbaik dari mana pun. Dan bagi karyawan, mereka bisa tinggal di mana saja tanpa harus kehilangan peluang karier.

3. Compressed Workweek

Tipe FWA yang ketiga ini mungkin masih terasa asing di Indonesia, tapi di banyak negara maju sudah mulai dicoba: compressed workweek, alias minggu kerja yang dipadatkan.

Contohnya: karyawan bekerja 4 hari dalam seminggu, tapi dengan jam kerja lebih panjang setiap harinya. Misalnya, 10 jam per hari selama 4 hari, lalu libur 3 hari. Beberapa perusahaan bahkan mengadopsi konsep 4-day workweek, tanpa menambah jam, tapi dengan ekspektasi hasil yang tetap.

Tujuannya jelas: memberi waktu istirahat lebih panjang, meningkatkan fokus dan efisiensi, serta menjaga keseimbangan hidup. Eksperimen di Islandia dan Jepang menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan produktivitas tetap stabil, bahkan meningkat, sementara stres menurun.

Tentu, tidak semua industri bisa menjalankan ini. Tapi compressed workweek bisa jadi opsi bagi tim-tim yang bekerja berdasarkan proyek, atau perusahaan dengan budaya kerja yang sangat berorientasi pada hasil. Yang penting, semua pihak sepakat soal metrik kinerja yang objektif.

Manfaat Flexible Working Arrangement

Kalau ada yang masih berpikir bahwa flexible working hanya soal kenyamanan karyawan, mungkin belum melihat peta besar manfaatnya. FWA bukan sekadar “enak karena bisa kerja pakai kaus di rumah”. Tapi ini adalah investasi. Baik bagi individu maupun organisasi.

Dan seperti banyak hal lain dalam hidup yang terlihat sederhana, ternyata efeknya bisa ke mana-mana.

1. Untuk Karyawan

Pertama-tama mari bicara dari sisi karyawan. Yang paling terasa tentu saja adalah work-life balance. FWA memberi ruang untuk mengatur hidup secara lebih manusiawi. Karyawan bisa menyesuaikan jadwal kerja dengan kehidupan pribadinya. Bisa ikut mengantar anak ke sekolah tanpa harus merasa bersalah. Bisa menemani orang tua ke rumah sakit tanpa harus cuti seharian.

Ini bukan perkara remeh. Hidup yang lebih teratur dan tidak dikejar-kejar waktu membuat stres menurun. Dan ketika stres menurun, kesehatan fisik maupun mental membaik. Banyak studi menyebutkan, karyawan yang diberi fleksibilitas lebih cenderung merasa puas dengan pekerjaannya. Mereka lebih jarang sakit, lebih semangat, dan lebih terhubung secara emosional dengan tempat kerjanya.

Tapi yang mungkin lebih penting lagi: FWA memberi rasa kendali. Orang merasa punya kuasa atas hidupnya. Ini hal sederhana, tapi sangat memengaruhi motivasi. Karena ketika seseorang merasa dihargai dan dipercaya, dia akan jauh lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

2. Untuk Perusahaan

Banyak perusahaan masih ragu-ragu soal FWA karena takut produktivitas turun. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Ketika perusahaan memberi keleluasaan dan kepercayaan, banyak karyawan justru merasa terdorong untuk membuktikan bahwa mereka bisa bertanggung jawab.

Data dari Stanford University menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja dari rumah bisa 15–20% lebih produktif dibanding yang bekerja di kantor penuh waktu. Bahkan, tingkat kehadiran dan efisiensi juga meningkat. Tanpa gangguan commuting, tanpa lelah karena macet, karyawan bisa langsung fokus ke pekerjaan sejak pagi.

Selain itu, FWA juga berdampak positif terhadap retensi karyawan. Banyak orang bertahan di perusahaan bukan semata karena gaji tinggi, tapi karena merasa dimanusiakan. Perusahaan yang memberi fleksibilitas dianggap lebih peduli terhadap kesejahteraan karyawannya. Dan itu menciptakan loyalitas.

Di era di mana talenta terbaik bisa pindah kapan saja, kemampuan perusahaan untuk memberikan fleksibilitas adalah salah satu kunci mempertahankan karyawan. Ini juga menjadi keunggulan kompetitif dalam rekrutmen. Generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, cenderung memilih tempat kerja yang memberi ruang untuk hidup seimbang, bukan sekadar gaji besar dan jabatan tinggi.

3. Untuk Tim

Ada anggapan bahwa kerja fleksibel bisa membuat tim jadi tercerai-berai. Padahal tidak selalu begitu. Justru ketika orang tidak bisa selalu bertemu fisik, mereka belajar berkomunikasi secara lebih sadar. Tidak bisa lagi asal panggil atau intip dari bilik sebelah. Semua perlu dirancang. Pertemuan harus punya agenda. Progres kerja harus dicatat dan dibagikan. Hasil diskusi harus terdokumentasi.

Ini membuat komunikasi tim lebih tertata. Bukan sekadar ngobrol, tapi benar-benar menyampaikan hal penting. Kolaborasi pun jadi lebih efisien. Karena orang tidak lagi membuang waktu untuk rapat yang tidak perlu.

Tentu, ini semua bisa terjadi jika didukung sistem dan komitmen. FWA bukan membebaskan tanpa arah, tapi memberi ruang dengan struktur. Tim-tim yang terbiasa dengan fleksibilitas biasanya justru lebih lincah dan adaptif menghadapi perubahan. Mereka sudah terbiasa dengan kerja jarak jauh, koordinasi lintas zona waktu, dan pengambilan keputusan berbasis hasil, bukan kehadiran.

4. Untuk Organisasi

Bagi organisasi, manfaat FWA bisa sangat konkret. Misalnya, efisiensi biaya operasional. Jika sebagian besar karyawan bekerja secara hybrid atau remote, maka kebutuhan akan ruang kantor bisa dikurangi. Tagihan listrik menurun. Biaya transportasi atau lembur bisa ditekan.

Tapi yang lebih besar dari itu adalah manfaat jangka panjang: organisasi bisa membangun budaya kerja yang sehat dan berkelanjutan. Budaya yang tidak menilai seseorang dari jam kerjanya, tapi dari kontribusinya. Budaya yang menghargai keberagaman gaya kerja. Budaya yang memberi ruang untuk hidup dan tumbuh.

Organisasi seperti ini akan lebih mudah bertransformasi. Lebih siap menghadapi disrupsi. Dan lebih kuat dalam menjaga keberlangsungan bisnis jangka panjang.

Perusahaan Tak Lagi Hanya Soal KPI

Fleksibilitas bukan berarti longgar seenaknya. Bukan pula sekadar privilege. FWA adalah bentuk kepercayaan. Perusahaan yang memberi fleksibilitas, sesungguhnya sedang mengatakan kepada karyawannya: “Kami percaya kamu bisa atur waktu dan hasilkan output terbaik.”

Bagi banyak HR dan pimpinan, ini bukan hal mudah. Butuh keberanian untuk bergeser dari manajemen berbasis jam ke manajemen berbasis hasil. Tapi inilah masa depan. Karena generasi yang masuk ke dunia kerja hari ini milenial dan Gen Z tidak hanya mencari gaji. Mereka juga mencari makna, keseimbangan hidup, dan kebebasan dalam bertumbuh.

FWA Itu Tentang Mindset, Bukan Sekadar Kebijakan

Satu hal penting: flexible working bukan hanya soal boleh kerja dari rumah atau tidak. Bukan cuma soal fasilitas. Ini soal mindset.

Perusahaan bisa membuat kebijakan kerja hybrid, tapi kalau atasan masih berpikir “kerja itu harus kelihatan”, maka kebijakan itu hanya jadi hiasan. Karyawan yang kerja dari rumah akan tetap ditelepon jam 8 pagi hanya untuk dicek keberadaannya. Atau diminta hadir ke kantor hanya karena bos merasa “lebih mantap kalau tatap muka.”

Jadi yang perlu dibenahi bukan hanya sistemnya. Tapi juga budaya kerjanya. FWA hanya akan efektif kalau seluruh elemen organisasi dari manajemen sampai karyawan memiliki pola pikir yang sama: bahwa kerja itu soal hasil, bukan soal hadir duduk di kursi 8 jam.

Bagaimana Memulai FWA di Perusahaan?

Mulai dari kecil. Tidak perlu langsung drastis. Bisa dimulai dari pengaturan jam kerja fleksibel. Misalnya, karyawan bisa memilih datang jam 7 dan pulang jam 3, atau datang jam 10 dan pulang jam 6. Lalu bisa dikembangkan menjadi hari kerja dari rumah sekali seminggu.

Yang penting: ukur dampaknya. Evaluasi secara berkala. Lakukan survei kepada karyawan. Gunakan data untuk melihat apakah produktivitas benar-benar naik, apakah kepuasan kerja meningkat, apakah turnover menurun.

Dan jangan lupakan pelatihan. Baik bagi manajer maupun karyawan. Pelatihan soal cara bekerja remote yang efektif, cara berkomunikasi dalam tim hybrid, hingga soal etika kerja fleksibel. Semua itu harus berjalan beriringan. Karena fleksibilitas tanpa tanggung jawab justru akan menimbulkan kekacauan.

Apakah Semua Karyawan Cocok dengan FWA?

Ternyata, tidak juga. Ada orang yang lebih suka kerja di kantor. Ada yang butuh lingkungan kerja fisik untuk bisa fokus. Ada juga yang merasa kesepian kalau kerja terlalu lama dari rumah. Maka FWA bukan hanya soal “membebaskan semua orang”. Tapi memberikan pilihan. Memberi ruang untuk setiap orang menemukan cara kerjanya yang paling optimal.

Di sinilah letak keindahan dari fleksibilitas: bukan membuat semua orang sama, tapi justru merayakan perbedaan cara kerja. Yang penting, semua tetap punya tujuan yang sama bekerja dengan baik dan menghasilkan yang terbaik.

flexible working arrangement

Bayangkan jika perusahaan Anda bisa meningkatkan produktivitas, menurunkan turnover, dan tetap menjaga semangat kerja karyawan semuanya tanpa harus menambah biaya operasional besar.

Di era kerja fleksibel ini, kuncinya bukan lagi soal mengontrol kehadiran, tapi membangun sistem kerja yang saling percaya dan terukur. Magnet Solusi Integra hadir membantu perusahaan Anda merancang dan mengimplementasikan Flexible Working Arrangement (FWA) yang bukan hanya cocok dengan budaya organisasi, tapi juga berdampak nyata pada kinerja tim.

Kami bantu mulai dari audit kesiapan, penyusunan kebijakan, sampai pelatihan manajer agar siap memimpin secara fleksibel. Konsultasi awal gratis karena kami percaya, perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang tepat.

Picture of Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog  <strong>CEO</strong>
Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog CEO

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari 20+ tahun di bidang rekrutmen dan pengembangan SDM.

Artikel terbaru
Komentar

Comments are closed.

Bangun SDM Unggul dan Adaptif Secara Tepat Sasaran

Melalui solusi #ElevatingPeopleEmpoweringBusiness, konsultasikan secara gratis bagaimana program kami dapat membantu tim dan perusahaan Anda tumbuh lebih cepat.

Pelajari Arah Transformasi Pengelolaan SDM untuk Penguatan Kinerja Organisasi
Dokumen ini membantu memahami dinamika pengelolaan SDM, budaya organisasi, dan penguatan kapabilitas insan dalam mendukung kinerja organisasi.