Daftar Isi

Competency Mapping: Model, Metode, & Contohnya

Daftar Isi
Terima insight SDM terbaru, langsung via email mingguan
Newsletter

Dengan klik tombol Berlangganan, saya menyetujui untuk menerima email berita dan pemberitahuan dari Magnet Solusi Integra.

Ikuti akun media sosial resmi Magnet Solusi Integra
competency mapping

Competency mapping adalah proses identifikasi dan analisis keterampilan, pengetahuan, serta perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja optimal dalam suatu peran atau organisasi.

Proses ini membantu dalam menentukan kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki karyawan saat ini dengan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bisnis.

Dengan melakukan competency mapping, perusahaan dapat mengembangkan strategi pelatihan, rekrutmen, serta pengelolaan talenta yang lebih efektif.

Selain itu, competency mapping juga berperan dalam meningkatkan produktivitas, memperjelas jalur karier, dan memastikan bahwa setiap individu ditempatkan sesuai dengan keahliannya, sehingga dapat berkontribusi secara maksimal bagi organisasi.

Baca Juga: Ketahui Teknik Rekrutmen Berbasis Kompetensi & Contohnya

competency mapping

Pengertian Competency Mapping

Competency Mapping adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi dan menilai kompetensi yang diperlukan dalam suatu organisasi guna memastikan kesesuaian antara keterampilan, pengetahuan, serta perilaku karyawan dengan tuntutan pekerjaan dan tujuan strategis organisasi.

Kompetensi di sini mencakup berbagai aspek, termasuk keterampilan teknis, kemampuan interpersonal, kecerdasan emosional, serta nilai-nilai yang mendukung kinerja individu dan tim.

Di era modern yang penuh dengan persaingan dan perubahan cepat, competency mapping menjadi alat yang sangat penting bagi perusahaan dalam meningkatkan efektivitas tenaga kerja, menyesuaikan diri dengan transformasi digital, dan menghadapi tantangan bisnis yang semakin kompleks.

Dengan pemetaan kompetensi yang tepat, organisasi dapat mengembangkan strategi sumber daya manusia yang lebih terarah, baik dalam aspek perekrutan, pelatihan, maupun pengembangan karier karyawan.

Competency Mapping tidak hanya diterapkan di perusahaan, tetapi juga digunakan di berbagai bidang seperti pendidikan, pemerintahan, dan layanan kesehatan.

Dalam pendidikan, misalnya, competency mapping digunakan untuk memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan sejalan dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja.

Sementara itu, dalam bidang pemerintahan, competency mapping digunakan untuk menyusun kebijakan pengembangan pegawai negeri sipil agar dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Tujuan Competency Mapping

Competency Mapping memiliki berbagai tujuan strategis dalam suatu organisasi.

Berikut adalah beberapa tujuan utama dari penerapan competency mapping:

1. Menentukan Standar Kompetensi Organisasi

Dengan melakukan competency mapping, organisasi dapat menetapkan standar kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap posisi kerja, sehingga ada kejelasan mengenai keterampilan dan karakteristik yang harus dimiliki oleh karyawan.

2. Meningkatkan Efektivitas Rekrutmen dan Seleksi

Penerapan competency mapping dalam proses rekrutmen memastikan bahwa perusahaan hanya merekrut kandidat yang benar-benar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, sehingga dapat mengurangi tingkat turnover karyawan.

3. Menyusun Program Pelatihan dan Pengembangan

Setelah mengetahui kesenjangan kompetensi (competency gap), organisasi dapat menyusun program pelatihan yang lebih efektif dan terfokus untuk meningkatkan keterampilan karyawan.

4. Mendukung Perencanaan Suksesi dan Pengembangan Karier

Competency mapping membantu organisasi dalam mengidentifikasi calon pemimpin masa depan dan menyusun jalur pengembangan karier yang lebih jelas bagi setiap karyawan.

5. Meningkatkan Produktivitas dan Kinerja

Dengan kompetensi yang sesuai, karyawan dapat bekerja lebih efektif, efisien, dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pencapaian target organisasi.

6. Meningkatkan Motivasi dan Keterlibatan Karyawan

Karyawan yang mengetahui jalur karier dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan akan lebih termotivasi dan terlibat dalam pekerjaannya.

Baca Juga: Pengertian, Panduan & Contoh Matrik Kompetensi Karyawan

Komponen dalam Competency Mapping

Dalam proses competency mapping, ada beberapa komponen utama yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Core Competencies (Kompetensi Inti)

Kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh karyawan dalam organisasi, seperti komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah.

2. Functional Competencies (Kompetensi Fungsional)

Kompetensi yang spesifik untuk suatu pekerjaan atau fungsi dalam organisasi, seperti analisis data untuk seorang analis bisnis atau kemampuan desain grafis bagi seorang desainer.

3. Behavioral Competencies (Kompetensi Perilaku)

Kompetensi yang mencerminkan cara seseorang berinteraksi di tempat kerja, misalnya kerja sama tim, adaptasi terhadap perubahan, dan keterampilan negosiasi.

4. Technical Competencies (Kompetensi Teknis)

Kompetensi yang berkaitan dengan keahlian teknis dalam suatu bidang tertentu, seperti pemrograman, audit keuangan, atau penggunaan alat dan teknologi tertentu.

Proses Competency Mapping

Penerapan competency mapping dalam organisasi dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis, antara lain:

1. Analisis Kebutuhan Kompetensi

Organisasi harus menentukan kompetensi apa saja yang diperlukan berdasarkan strategi bisnis dan tujuan jangka panjangnya.

2. Analisis Jabatan (Job Analysis)

Proses ini melibatkan pengumpulan data mengenai tanggung jawab dan tugas dalam setiap posisi pekerjaan, serta kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankannya.

3. Identifikasi Kompetensi Individu

Menilai keterampilan dan kemampuan karyawan yang sudah ada melalui wawancara, asesmen, atau uji keterampilan.

4. Gap Analysis (Analisis Kesenjangan Kompetensi)

Membandingkan kompetensi yang dimiliki karyawan dengan kompetensi yang dibutuhkan, sehingga dapat diketahui kesenjangan yang harus diperbaiki.

5. Pengembangan Program Pelatihan dan Pengembangan

Menyusun program pengembangan berbasis kompetensi untuk meningkatkan keterampilan karyawan yang masih kurang.

6. Evaluasi dan Pemantauan

Mengukur efektivitas pelatihan dan melakukan pemantauan berkala untuk memastikan bahwa kompetensi karyawan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Baca Juga: 360 Degree Feedback: Definisi, Contoh, Form & Teorinya!

Model Competency Mapping

Competency Mapping memiliki berbagai model yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Setiap model memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi kompetensi karyawan.

Berikut adalah beberapa model competency mapping yang umum digunakan dalam organisasi serta karakteristik dan penerapannya.

1. Competency-Based Model

Model ini menekankan pada identifikasi kompetensi spesifik yang diperlukan untuk suatu peran dalam organisasi.

Kompetensi dalam model ini mencakup keterampilan teknis, perilaku, serta nilai-nilai yang harus dimiliki karyawan agar berhasil dalam pekerjaannya.

Model ini membantu organisasi dalam menyesuaikan kompetensi dengan persyaratan pekerjaan tertentu, meningkatkan efektivitas perekrutan dan seleksi, serta mengembangkan pelatihan yang lebih terarah.

Organisasi dapat menerapkan model ini dengan membuat daftar kompetensi yang relevan untuk setiap posisi kerja.

Misalnya, seorang analis keuangan mungkin memerlukan kompetensi seperti analisis data, pemahaman pasar keuangan, dan pengelolaan risiko.

2. Functional Competency Model

Model ini mengelompokkan kompetensi berdasarkan fungsi atau divisi dalam perusahaan.

Setiap departemen memiliki serangkaian kompetensi yang diperlukan untuk mencapai tujuan spesifik mereka.

Model ini membantu departemen dalam merancang strategi pengembangan karyawan, mengidentifikasi kompetensi utama dalam suatu fungsi kerja, serta mempermudah perencanaan karier dan rotasi pekerjaan dalam organisasi.

Contohnya, dalam departemen pemasaran, kompetensi yang diperlukan meliputi strategi digital marketing, analisis pasar, dan komunikasi pelanggan.

Sementara itu, departemen IT memerlukan kompetensi seperti pemrograman, keamanan siber, dan manajemen database.

3. Behavioral Competency Model

Model ini lebih berfokus pada perilaku dan keterampilan interpersonal yang berkontribusi pada kinerja individu dalam organisasi.

Kompetensi dalam model ini meliputi komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan.

Model ini digunakan untuk meningkatkan efektivitas kerja tim dan kepemimpinan serta sering digunakan dalam evaluasi kinerja dan program pelatihan kepemimpinan.

Organisasi dapat menerapkan model ini dalam program pengembangan kepemimpinan, di mana kompetensi seperti pengelolaan konflik dan negosiasi diajarkan kepada manajer untuk meningkatkan hubungan antar karyawan.

4. Core Competency Model

Core Competency Model menetapkan kompetensi inti yang harus dimiliki oleh semua karyawan dalam organisasi, terlepas dari jabatan atau departemennya.

Model ini bertujuan untuk membangun budaya kerja yang selaras dengan visi dan misi organisasi, membantu dalam pengambilan keputusan strategis terkait SDM, serta memastikan bahwa semua karyawan memiliki keterampilan dasar yang sama.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan berbasis layanan pelanggan mungkin menetapkan kompetensi inti seperti komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, dan keterampilan layanan pelanggan sebagai dasar bagi semua karyawan.

5. Technical Competency Model

Model ini digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan atau industri tertentu.

Model ini berfokus pada keterampilan teknis yang dapat diajarkan dan diuji, diterapkan dalam bidang seperti teknik, IT, dan keuangan, serta membantu dalam mengembangkan standar kompetensi industri.

Sebagai contoh, dalam industri IT, seorang pengembang perangkat lunak harus memiliki keterampilan teknis dalam pemrograman Python, manajemen database, dan penggunaan cloud computing.

6. Leadership Competency Model

Model ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi kepemimpinan dalam organisasi.

Model ini tidak hanya berlaku bagi manajer, tetapi juga bagi karyawan yang memiliki potensi kepemimpinan di masa depan.

Dengan berfokus pada keterampilan seperti pengambilan keputusan, komunikasi strategis, dan pengelolaan tim, model ini meningkatkan efektivitas pemimpin dalam organisasi dan dapat digunakan dalam program pengembangan kepemimpinan.

Contohnya, perusahaan dapat menerapkan model ini dengan mengadakan program mentoring untuk mengembangkan pemimpin baru, di mana calon pemimpin belajar mengenai manajemen perubahan dan inovasi strategis.

7. Industry-Specific Competency Model

Model ini disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi dalam industri tertentu.

Setiap industri memiliki persyaratan kompetensi yang unik, sehingga model ini memastikan bahwa tenaga kerja memiliki keterampilan yang relevan.

Model ini dirancang khusus untuk sektor industri tertentu, seperti kesehatan, keuangan, atau manufaktur, serta mengikuti regulasi dan standar industri yang berlaku.

Sebagai contoh, dalam industri kesehatan, seorang dokter perlu memiliki kompetensi dalam diagnosis klinis, etika medis, dan teknologi kesehatan digital.

8. Integrated Competency Model

Model ini menggabungkan berbagai aspek kompetensi, baik teknis, fungsional, perilaku, dan kepemimpinan untuk pendekatan yang lebih holistik dalam pengelolaan sumber daya manusia.

Model ini menciptakan sistem pengelolaan kompetensi yang komprehensif, mengintegrasikan kompetensi teknis, perilaku, dan kepemimpinan, serta memungkinkan organisasi untuk lebih fleksibel dalam pengembangan karyawan.

Organisasi dapat menggunakan model ini untuk membangun sistem kompetensi yang mencakup aspek teknis, perilaku, dan kepemimpinan dalam satu framework.

Model ini sering digunakan oleh perusahaan multinasional yang membutuhkan pendekatan yang terstandarisasi dalam manajemen SDM mereka.

Metode dalam Competency Mapping

Competency Mapping dapat dilakukan melalui berbagai metode yang dirancang untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengembangkan kompetensi karyawan dalam suatu organisasi.

Metode-metode ini membantu dalam memahami kesenjangan keterampilan, menyusun strategi pengembangan SDM, dan memastikan bahwa tenaga kerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Berikut adalah beberapa metode utama dalam competency mapping beserta implementasi dan manfaatnya.

1. Behavioral Event Interview (BEI)

Metode ini menggunakan wawancara mendalam yang berfokus pada pengalaman kerja karyawan untuk mengidentifikasi kompetensi yang telah diterapkan dalam situasi nyata.

Dalam wawancara BEI, kandidat atau karyawan diminta untuk menceritakan pengalaman spesifik terkait pekerjaan mereka, termasuk tindakan yang diambil dan hasil yang dicapai.

Metode ini efektif dalam mengevaluasi kompetensi berbasis perilaku, seperti kepemimpinan, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.

Organisasi dapat menerapkan BEI saat proses seleksi atau dalam penilaian kinerja untuk mengidentifikasi individu dengan potensi tinggi.

2. Self-Assessment and Peer Assessment

Metode ini melibatkan karyawan dalam menilai kompetensi mereka sendiri serta menerima umpan balik dari rekan kerja.

Self-assessment memberikan wawasan mengenai persepsi individu terhadap keterampilannya, sementara peer assessment memberikan perspektif yang lebih objektif dari lingkungan kerja.

Metode ini memungkinkan karyawan untuk mengenali kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan, serta membantu organisasi dalam menyusun program pengembangan berbasis kebutuhan nyata.

Organisasi dapat menerapkan metode ini melalui survei atau formulir evaluasi kompetensi yang diisi oleh karyawan dan rekan kerja mereka.

3. Competency-Based Assessment Centers

Assessment center adalah metode evaluasi yang melibatkan berbagai simulasi, studi kasus, permainan peran, dan tes berbasis skenario untuk menilai kompetensi karyawan secara menyeluruh.

Metode ini dirancang untuk mengukur keterampilan teknis, perilaku, dan kepemimpinan melalui skenario dunia nyata yang menyerupai tantangan di tempat kerja.

Assessment center sering digunakan dalam proses seleksi kepemimpinan, promosi, dan pelatihan pengembangan manajerial.

Misalnya, dalam seleksi manajer baru, kandidat dapat diminta untuk memimpin diskusi kelompok, membuat keputusan strategis, dan menangani konflik dalam simulasi kerja.

4. 360-Degree Feedback

Metode ini mengumpulkan umpan balik dari berbagai sumber, termasuk atasan, rekan kerja, bawahan, dan bahkan pelanggan untuk memberikan gambaran holistik mengenai kompetensi seorang individu.

Dengan menggabungkan perspektif yang beragam, 360-degree feedback membantu dalam memahami kekuatan dan area yang perlu dikembangkan dari berbagai sudut pandang.

Metode ini sering digunakan dalam program pengembangan kepemimpinan dan evaluasi kinerja karyawan tingkat menengah hingga atas.

Implementasinya dapat dilakukan melalui kuesioner atau wawancara yang mencakup aspek-aspek kompetensi utama seperti komunikasi, kerja tim, dan pengambilan keputusan.

5. Functional Job Analysis (FJA)

Metode ini berfokus pada analisis tugas dan tanggung jawab spesifik dalam suatu pekerjaan untuk mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan.

Dengan cara ini, organisasi dapat memahami hubungan antara pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan, serta menyesuaikan pelatihan dan pengembangan karyawan.

FJA sering digunakan dalam pengelolaan sumber daya manusia untuk menyusun deskripsi pekerjaan yang lebih akurat dan mengembangkan jalur karier yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Misalnya, dalam peran teknis seperti pengembang perangkat lunak, FJA dapat mengidentifikasi kompetensi seperti pemrograman, pemecahan masalah, dan manajemen proyek sebagai keterampilan utama yang dibutuhkan.

6. Psychometric Tests and Personality Assessments

Tes psikometri dan penilaian kepribadian digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif, karakteristik kepribadian, serta preferensi kerja seseorang.

Metode ini dapat membantu dalam memahami kesesuaian individu dengan suatu peran, mengidentifikasi potensi kepemimpinan, serta mengembangkan strategi pengelolaan talenta yang lebih efektif.

Organisasi dapat menerapkan metode ini dalam proses rekrutmen untuk menilai kandidat berdasarkan kecerdasan emosional, gaya kerja, dan kemampuan berpikir kritis.

7. Task Analysis Grid (TAG)

Metode ini digunakan untuk memetakan keterampilan dan tugas dalam suatu pekerjaan guna mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan.

Dengan mengelompokkan tugas berdasarkan kompleksitas dan frekuensi, organisasi dapat menentukan keterampilan yang paling penting bagi suatu peran.

TAG sering digunakan dalam desain pelatihan dan pengembangan kurikulum untuk memastikan bahwa setiap karyawan memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaannya secara efektif.

Implementasinya dapat dilakukan dengan membuat tabel yang mencantumkan tugas pekerjaan di satu sisi dan kompetensi yang relevan di sisi lainnya.

8. SWOT Analysis for Competency Mapping

Metode ini melibatkan analisis Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman) untuk menilai kompetensi individu atau organisasi.

Dengan melakukan analisis SWOT, organisasi dapat mengidentifikasi kompetensi utama yang harus diperkuat, area yang memerlukan peningkatan, peluang untuk pengembangan keterampilan baru, serta ancaman yang mungkin menghambat pertumbuhan kompetensi karyawan.

Organisasi dapat menerapkan metode ini dalam perencanaan strategis pengelolaan SDM, misalnya dengan mengidentifikasi kebutuhan pelatihan berdasarkan hasil analisis SWOT.

9. Competency Dictionary and Framework Development

Metode ini melibatkan pengembangan kamus kompetensi yang mendokumentasikan keterampilan, pengetahuan, dan perilaku yang dibutuhkan untuk berbagai peran dalam organisasi.

Dengan memiliki competency dictionary, organisasi dapat mengelola pengembangan SDM dengan lebih sistematis dan terstruktur.

Metode ini membantu dalam standarisasi kompetensi di seluruh organisasi dan memastikan bahwa semua karyawan memiliki pemahaman yang sama tentang keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam pekerjaannya.

Implementasi metode ini biasanya melibatkan identifikasi kompetensi utama, pengelompokannya berdasarkan peran, serta penentuan tingkat kemahiran untuk setiap kompetensi.

10. Gap Analysis for Competency Development

Gap Analysis digunakan untuk membandingkan kompetensi yang dimiliki karyawan saat ini dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasi.

Metode ini membantu dalam mengidentifikasi kesenjangan keterampilan yang harus diatasi melalui pelatihan atau rekrutmen.

Dengan melakukan Gap Analysis, organisasi dapat membuat program pengembangan SDM yang lebih terarah dan memastikan bahwa tenaga kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Implementasi metode ini melibatkan penilaian kompetensi individu, perbandingan dengan standar organisasi, serta perencanaan strategi pengembangan untuk menutup kesenjangan tersebut.

Contoh Competency Mapping

Berikut adalah contoh penerapan berbagai metode competency mapping dalam bentuk tabel untuk memberikan gambaran lebih jelas:

Nama KandidatPosisiKompetensi UtamaMetode PenilaianTingkat Kompetensi Saat Ini (1-5)Tingkat Kompetensi yang Diharapkan (1-5)Gap Kompetensi
Agus WijayaManajer ProyekManajemen Tim360-Degree Feedback352 (Perlu peningkatan dalam kepemimpinan dan delegasi tugas)
Siti RahmawatiAnalis DataAnalisis StatistikPsychometric Test451 (Perlu peningkatan dalam teknik pemodelan data lanjutan)
Budi SantosoSupervisor ProduksiPemecahan MasalahCompetency-Based Assessment242 (Kurang pengalaman dalam menangani masalah produksi kompleks)
Indah LestariCustomer ServiceKomunikasi PelangganSelf & Peer Assessment352 (Perlu pelatihan dalam komunikasi asertif dan handling complaint)
Dian SaputraDigital Marketing SpecialistStrategi DigitalSWOT Analysis451 (Kurang dalam pemanfaatan AI untuk analisis data pemasaran)
Rina KartikaHR ManagerPengelolaan SDMBEI & 360-Degree Feedback341 (Perlu peningkatan dalam manajemen konflik)
Andi PratamaIT Security AnalystKeamanan SiberGap Analysis253 (Kurang pemahaman dalam mitigasi serangan siber tingkat lanjut)

Penjelasan Kolom:

  • Nama Kandidat: Nama individu yang dinilai.
  • Posisi: Jabatan atau peran dalam organisasi.
  • Kompetensi Utama: Kemampuan utama yang diperlukan untuk posisi tersebut.
  • Metode Penilaian: Cara yang digunakan untuk mengukur kompetensi.
  • Tingkat Kompetensi Saat Ini (1-5): Skala dari 1 (rendah) hingga 5 (sangat tinggi) berdasarkan hasil penilaian.
  • Tingkat Kompetensi yang Diharapkan (1-5): Standar kompetensi yang diharapkan untuk posisi tersebut.
  • Gap Kompetensi: Selisih antara tingkat kompetensi saat ini dan yang diharapkan, menunjukkan area yang perlu ditingkatkan.
competency mapping

Jika Anda ingin menganalisis keterampilan, pengetahuan, serta perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja optimal dalam suatu peran atau organisasi, kami siap membantu!

Dapatkan konsultasi gratis dengan menggunakan Assessment Centre dari Magnet Solusi Integra.

Dengan metode yang terstruktur dan berbasis data, kami akan membantu Anda mengidentifikasi kesenjangan kompetensi dan merancang strategi pengembangan yang tepat.

Klik tombol di bawah ini untuk berkonsultasi secara gratis dan optimalkan potensi tim Anda sekarang!👇

Picture of Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog  <strong>CEO</strong>
Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog CEO

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari 20+ tahun di bidang rekrutmen dan pengembangan SDM.

Artikel terbaru
Komentar

Comments are closed.

Bangun SDM Unggul dan Adaptif Secara Tepat Sasaran

Melalui solusi #ElevatingPeopleEmpoweringBusiness, konsultasikan secara gratis bagaimana program kami dapat membantu tim dan perusahaan Anda tumbuh lebih cepat.

Pelajari Arah Transformasi Pengelolaan SDM untuk Penguatan Kinerja Organisasi
Dokumen ini membantu memahami dinamika pengelolaan SDM, budaya organisasi, dan penguatan kapabilitas insan dalam mendukung kinerja organisasi.