Daftar Isi

Microlearning: Definisi, MOOC, & Manfaat Kursusnya

Daftar Isi
Terima insight SDM terbaru, langsung via email mingguan
Newsletter

Dengan klik tombol Berlangganan, saya menyetujui untuk menerima email berita dan pemberitahuan dari Magnet Solusi Integra.

Ikuti akun media sosial resmi Magnet Solusi Integra
microlearning

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh dengan informasi, pembelajaran yang efektif dan efisien menjadi semakin penting.

Salah satu pendekatan yang semakin populer untuk menjawab tantangan tersebut adalah microlearning.

Apa itu microlearning? Mengapa konsep ini begitu penting dalam dunia pembelajaran modern?

Mari kita bahas lebih dalam, dengan gaya yang santai namun tetap mendalam dan profesional.

Baca Juga: People Analytics: Definisi, Pelatihan, Tools & Metrik! 

microlearning

Apa Itu Microlearning?

Secara sederhana, microlearning adalah sebuah metode pembelajaran yang dilakukan dalam waktu singkat dan fokus pada materi yang sangat spesifik.

Biasanya, setiap sesi microlearning berlangsung antara 3 hingga 10 menit, dan dirancang untuk memberikan informasi yang sangat terfokus agar mudah dipahami dan diterapkan.

Konsep ini berbeda dengan metode pembelajaran tradisional yang seringkali melibatkan sesi yang panjang dan mencakup berbagai topik sekaligus.

Konsep microlearning lebih menekankan pada learning on demand, di mana peserta bisa mengakses materi kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dengan kata lain, microlearning memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel, lebih terfokus, dan lebih relevan dengan tantangan yang dihadapi individu dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Mengapa Microlearning Itu Penting?

Di dunia yang penuh dengan gangguan dan keterbatasan waktu, model pembelajaran tradisional yang panjang sering kali menjadi tidak efektif.

Peserta bisa merasa kewalahan dengan banyaknya informasi yang harus diproses dalam satu waktu.

Di sinilah microlearning masuk, sebagai solusi bagi banyak tantangan yang dihadapi dalam pendidikan dan pelatihan.

1. Keterbatasan Waktu

Banyak profesional dan pelajar yang memiliki waktu terbatas untuk belajar, terutama di tengah kesibukan mereka.

Microlearning memberikan kesempatan untuk tetap belajar dalam waktu yang singkat.

Dengan hanya membutuhkan waktu 3-10 menit, microlearning memungkinkan individu untuk belajar kapan saja tanpa merasa terganggu oleh rutinitas harian mereka.

2. Peningkatan Daya Serap Informasi

Dalam microlearning, materi disampaikan dalam potongan kecil yang lebih mudah dicerna.

Ketika informasi disajikan dalam jumlah yang lebih sedikit, proses pemahaman menjadi lebih cepat dan lebih mendalam.

Hal ini membantu peserta untuk lebih mudah mengingat dan menerapkan apa yang telah dipelajari.

3. Pembelajaran Berkelanjutan

Microlearning memungkinkan pembelajaran berkelanjutan karena materi yang diberikan bisa diakses secara teratur dan bertahap.

Ini membantu peserta untuk terus berkembang, meningkatkan keterampilan mereka secara progresif.

Tidak ada lagi ketakutan terhadap sesi pembelajaran yang panjang dan melelahkan.

4. Fleksibilitas Akses

Salah satu kekuatan utama dari microlearning adalah fleksibilitas.

Peserta dapat mengakses materi pembelajaran kapan saja dan di mana saja, menggunakan berbagai perangkat.

Ini membuat pembelajaran lebih mudah disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan masing-masing individu.

Bagaimana Microlearning Bekerja?

Microlearning bisa diimplementasikan dengan berbagai cara, tergantung pada tujuan pembelajaran dan platform yang digunakan.

Namun, ada beberapa prinsip dasar yang menjadi landasan dari pendekatan ini.

1. Fokus pada Satu Topik

Setiap modul microlearning biasanya berfokus pada satu topik spesifik.

Tidak ada informasi yang berlebihan, hanya materi yang relevan dan penting untuk dipelajari.

Misalnya, dalam pelatihan keterampilan komunikasi, sebuah sesi microlearning bisa mengajarkan cara efektif berbicara di depan umum dalam durasi yang sangat singkat.

2. Format Beragam

Microlearning dapat disajikan dalam berbagai format, seperti video singkat, kuis interaktif, artikel pendek, atau infografis.

Format ini memungkinkan pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak monoton. Peserta bisa memilih format yang sesuai dengan preferensi mereka.

3. Pembelajaran Mandiri

Salah satu kelebihan microlearning adalah sifatnya yang mendukung pembelajaran mandiri.

Peserta bisa memilih waktu dan tempat mereka untuk mengakses materi pembelajaran, yang memberikan kontrol lebih besar terhadap proses pembelajaran itu sendiri.

4. Penggunaan Teknologi

Microlearning seringkali menggunakan platform digital untuk distribusi materi.

Aplikasi mobile, e-learning platforms, dan berbagai teknologi lainnya memungkinkan peserta untuk mengakses materi pembelajaran dalam format yang sangat fleksibel dan mudah digunakan.

Baca Juga: Definisi & Pelatihan Leadership Development Program! 

Microlearning dalam Konteks MOOC (Massive Open Online Courses)

Dalam dunia pembelajaran online, MOOC (Massive Open Online Courses) telah menjadi fenomena yang sangat populer.

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan akses internet, kursus online ini memberikan kesempatan kepada siapa saja di dunia untuk mengakses materi pembelajaran dari berbagai universitas dan lembaga pendidikan ternama.

Namun, meskipun MOOC menawarkan akses yang luas, banyak peserta yang merasa kesulitan untuk tetap terlibat dalam kursus yang panjang dan seringkali memerlukan komitmen waktu yang signifikan.

Di sinilah microlearning berperan penting. Penggabungan microlearning dalam MOOC dapat membuat pengalaman pembelajaran menjadi lebih efisien, mudah diakses, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Dengan memanfaatkan format microlearning dalam platform MOOC, peserta dapat memecah pembelajaran menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih terkelola, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih efektif tanpa merasa terbebani oleh kursus yang panjang.

1. Microlearning dalam MOOC

Dalam konteks MOOC, microlearning dapat diterapkan dengan membagi konten besar menjadi modul-modul kecil yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Setiap modul ini berfokus pada satu topik atau keterampilan yang sangat spesifik, memungkinkan peserta untuk mempelajari materi secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Ini sangat bermanfaat bagi peserta yang memiliki waktu terbatas dan lebih memilih sesi pembelajaran yang singkat dan padat.

Misalnya, sebuah kursus MOOC yang berfokus pada pengembangan keterampilan teknis atau profesional bisa memecah topik besar seperti pemrograman komputer atau manajemen proyek menjadi beberapa sesi microlearning.

Setiap sesi memberikan pengetahuan praktis yang bisa langsung diterapkan, dengan durasi yang singkat namun tetap informatif dan mendalam.

2. Meningkatkan Keterlibatan dan Komitmen Peserta

Salah satu tantangan terbesar dalam MOOC adalah tingkat keterlibatan yang rendah dari peserta. Banyak peserta yang mendaftar kursus namun kemudian tidak menyelesaikannya karena kursus tersebut terlalu panjang atau sulit diikuti.

Dengan pendekatan microlearning, materi dapat disajikan dalam format yang lebih menarik dan mudah diakses.

Hal ini tidak hanya meningkatkan peluang peserta untuk menyelesaikan kursus, tetapi juga memperbesar kemungkinan mereka untuk terus terlibat dan mengulang materi sesuai kebutuhan.

Kursus yang menggunakan microlearning seringkali mencakup video pendek, kuis interaktif, atau bahkan infografis yang menyenangkan, yang semuanya dirancang untuk menjaga peserta tetap fokus dan termotivasi untuk belajar.

3. Fleksibilitas dalam Pembelajaran

Salah satu keuntungan utama dari MOOC adalah fleksibilitas yang ditawarkannya. Peserta dapat mengakses kursus kapan saja dan di mana saja.

Dengan menambahkan elemen microlearning, fleksibilitas ini semakin ditingkatkan.

Peserta dapat memilih kapan mereka ingin meluangkan waktu untuk menyelesaikan sebuah modul kecil yang relevan dengan kebutuhan mereka pada saat itu.

Jika seseorang ingin mempelajari tentang analisis data dalam konteks bisnis, mereka dapat mengakses modul singkat tentang topik tersebut dalam waktu kurang dari 10 menit, tanpa harus menyelesaikan seluruh kursus terlebih dahulu.

Ini memberi kebebasan lebih besar bagi peserta untuk belajar sesuai dengan ritme mereka sendiri, tanpa merasa terbebani oleh materi yang terlalu luas.

4. Meningkatkan Keberhasilan Pembelajaran dengan Umpan Balik Instan

Microlearning dalam MOOC juga memungkinkan peserta untuk mendapatkan umpan balik langsung.

Setelah menyelesaikan modul singkat atau kuis interaktif, peserta dapat langsung mengetahui apakah mereka menguasai materi tersebut atau tidak.

Umpan balik instan ini sangat penting dalam proses pembelajaran karena membantu peserta untuk mengenali kekuatan dan area yang perlu diperbaiki dengan cepat.

Sebagai contoh, setelah menyelesaikan sebuah sesi microlearning tentang teknik pemrograman, peserta dapat langsung mendapatkan feedback mengenai kemampuan mereka, apakah mereka sudah menguasai konsep tersebut atau perlu mengulang materi sebelumnya.

5. Mempercepat Penguasaan Keterampilan Praktis

Microlearning dalam MOOC juga sangat efektif untuk mempelajari keterampilan praktis.

Dengan menyediakan materi yang langsung dapat diterapkan, seperti tutorial teknis atau studi kasus, peserta dapat memperoleh keterampilan baru dengan cara yang langsung relevan dengan pekerjaan atau kehidupan sehari-hari mereka.

Pembelajaran berbasis praktik ini mempercepat penguasaan keterampilan yang dapat segera digunakan.

Misalnya, jika seseorang sedang mengikuti kursus tentang penggunaan perangkat lunak tertentu, mereka bisa mempelajari teknik tertentu melalui video tutorial yang berdurasi 5-10 menit.

Ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih efisien tetapi juga lebih fokus pada aspek praktis yang dapat langsung diterapkan.

Keuntungan Microlearning

Ada berbagai alasan mengapa microlearning menjadi semakin populer, baik di dunia pendidikan maupun dalam pelatihan profesional.

Beberapa keuntungan utama dari microlearning antara lain:

1. Efisiensi

Karena materi disampaikan dalam potongan kecil, peserta dapat mempelajari informasi dengan cara yang lebih terorganisir dan efisien.

Ini mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kursus atau pelatihan tertentu.

2. Peningkatan Keterlibatan

Sesi yang lebih singkat dan lebih menarik memungkinkan peserta untuk tetap terlibat sepanjang proses pembelajaran.

Materi yang disajikan secara dinamis dan interaktif dapat meningkatkan motivasi peserta untuk terus belajar.

3. Kemudahan Penerapan

Microlearning seringkali fokus pada keterampilan praktis yang langsung dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari atau pekerjaan.

Dengan cara ini, peserta tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga tahu bagaimana cara menggunakannya dalam konteks nyata.

4. Pengulangan Mudah

Karena materi disajikan dalam format yang kecil, peserta dapat mengulang sesi-sesi tersebut dengan mudah jika perlu.

Ini memungkinkan mereka untuk memantapkan pemahaman mereka atau menyegarkan ingatan ketika dibutuhkan.

Microlearning dalam Desain Instruksional

Microlearning dalam desain instruksional menawarkan pendekatan yang inovatif untuk menciptakan pengalaman belajar yang efektif, fleksibel, dan terfokus.

Desain instruksional adalah proses merancang pengalaman pembelajaran yang memastikan materi disampaikan dengan cara yang optimal, agar dapat memaksimalkan pemahaman dan keterampilan peserta.

Ketika mengintegrasikan prinsip microlearning ke dalam desain instruksional, fokus utama adalah menciptakan materi yang singkat, padat, dan langsung pada inti.

1. Prinsip Dasar Desain Instruksional Microlearning

Desain instruksional untuk microlearning menuntut pendekatan yang lebih sistematis, namun tetap ringan.

Pembelajaran yang efektif mengharuskan perancang untuk mengidentifikasi tujuan yang jelas, memilih konten yang relevan, dan memastikan bahwa pengalaman belajar dapat berlangsung dalam waktu singkat.

Dalam konteks microlearning, setiap sesi dirancang untuk memberikan pemahaman atau keterampilan spesifik yang bisa dipahami dalam beberapa menit.

Proses desain ini mencakup beberapa langkah kunci, dimulai dengan identifikasi tujuan pembelajaran yang jelas.

Tujuan ini menentukan keterampilan atau pengetahuan apa yang perlu dikuasai oleh peserta, dan bagaimana materi akan disusun.

Materi yang disajikan kemudian diperkecil menjadi bagian-bagian kecil yang mudah dipahami, dengan satu tujuan pembelajaran per modul.

Desain instruksional microlearning harus mampu menyesuaikan metode penyampaian konten dengan preferensi peserta, menggunakan berbagai elemen seperti video, kuis, atau latihan praktis untuk menjaga keterlibatan dan memperdalam pemahaman.

2. Menggunakan Prinsip ADDIE dalam Microlearning

Salah satu model desain instruksional yang paling dikenal adalah ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation).

Microlearning dapat diintegrasikan dalam setiap tahap model ADDIE untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif dalam waktu singkat.

Pada tahap Analysis (Analisis), perancang instruksional menganalisis kebutuhan pembelajaran dan audiens.

Untuk microlearning, ini berarti menentukan apa yang paling penting bagi peserta dan bagaimana mereka bisa mempelajarinya dalam durasi yang terbatas.

Kemudian, dalam tahap Design (Desain), materi pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan format microlearning yang paling efektif.

Pada tahap ini, perancang perlu memikirkan apakah materi lebih baik disampaikan melalui video singkat, infografis, atau kuis interaktif.

Pada tahap Development (Pengembangan), materi pembelajaran dikembangkan dengan alat digital yang sesuai, seperti aplikasi e-learning atau platform video.

Penyampaian materi harus menggunakan teknologi yang mendukung pembelajaran cepat dan mudah dicerna.

Selanjutnya, pada tahap Implementation (Implementasi), pembelajaran diimplementasikan melalui platform yang memungkinkan peserta untuk mengakses materi dengan mudah dan fleksibel, seperti aplikasi mobile atau sistem manajemen pembelajaran (LMS).

Terakhir, tahap Evaluation (Evaluasi) dilakukan setelah peserta menyelesaikan sesi microlearning untuk mengukur sejauh mana materi tersebut berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

3. Fokus pada Pengalaman Pengguna dalam Desain Microlearning

Penting untuk selalu mengutamakan pengalaman pengguna dalam desain instruksional microlearning.

Pembelajaran yang efektif dalam format microlearning harus dirancang agar peserta merasa nyaman dan termotivasi untuk terus belajar.

Hal ini bisa dicapai dengan mengutamakan antarmuka yang mudah digunakan, navigasi yang intuitif, dan materi yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana dan menarik.

Selain itu, elemen interaktif sangat penting dalam menjaga keterlibatan peserta.

Misalnya, simulasi praktis memberikan kesempatan bagi peserta untuk menerapkan pengetahuan yang baru saja mereka pelajari, sementara umpan balik langsung membantu peserta untuk memahami apakah mereka sudah menguasai materi tersebut.

Gamifikasi, dengan menambahkan elemen permainan seperti poin atau level, juga bisa menjadi cara efektif untuk meningkatkan motivasi peserta dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan.

4. Penerapan Multimedia dalam Desain Microlearning

Microlearning tidak hanya terbatas pada teks atau gambar statis; salah satu kekuatan dari desain instruksional microlearning adalah penggunaan berbagai elemen multimedia.

Video, audio, infografis, dan animasi bisa digunakan untuk menyampaikan informasi secara lebih dinamis, menarik, dan mudah dipahami.

Misalnya, sebuah modul tentang cara menggunakan perangkat lunak bisa dipresentasikan melalui video tutorial berdurasi 3 menit yang menunjukkan langkah-langkah penggunaan perangkat tersebut secara langsung.

Penggunaan audio atau narasi juga bisa memberikan penjelasan tambahan yang membantu peserta untuk memahami konteks dengan lebih baik.

5. Konten yang Dapat Diterapkan dan Relevan

Dalam desain instruksional microlearning, sangat penting untuk memastikan bahwa konten yang disajikan relevan dengan kebutuhan nyata peserta.

Pembelajaran harus fokus pada aplikasi praktis, bukan sekadar teori.

Dengan demikian, peserta bisa langsung mengaplikasikan pengetahuan atau keterampilan yang mereka pelajari ke dalam kehidupan sehari-hari atau pekerjaan mereka.

Misalnya, jika seorang peserta sedang mengikuti kursus tentang penggunaan perangkat lunak tertentu, mereka bisa mempelajari teknik-teknik tertentu melalui video tutorial yang berdurasi 5 hingga 10 menit.

Pembelajaran semacam ini memungkinkan peserta untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dan praktis dengan cara yang efisien.

6. Pengukuran Keberhasilan dalam Microlearning

Pengukuran efektivitas dalam desain instruksional microlearning sangat bergantung pada dua aspek utama: hasil pembelajaran dan pengalaman peserta.

Evaluasi dapat dilakukan melalui kuis singkat setelah setiap modul, serta analisis keterlibatan peserta dengan materi yang disajikan.

Metrik keberhasilan dapat mencakup tingkat penyelesaian kursus, yang menunjukkan seberapa banyak peserta yang berhasil menyelesaikan seluruh modul microlearning.

Selain itu, pemahaman peserta juga dapat diukur untuk melihat sejauh mana mereka dapat mengaplikasikan materi yang telah dipelajari dalam situasi nyata.

Keterlibatan peserta dengan materi, seperti seberapa sering mereka mengakses modul atau berinteraksi dengan elemen interaktif, juga menjadi indikator keberhasilan yang penting dalam microlearning.

microlearning

Microlearning kini menjadi salah satu strategi utama dalam program Learning & Development (L&D) perusahaan karena mampu menjawab tantangan pembelajaran karyawan di era digital yang serba cepat.

Dengan menyajikan materi dalam format singkat dan terfokus, microlearning memungkinkan karyawan belajar secara fleksibel tanpa mengganggu ritme kerja harian mereka.

Ini sangat relevan untuk pengembangan soft skill maupun hard skill secara bertahap namun konsisten, serta efektif dalam meningkatkan retensi pengetahuan karena disampaikan dalam potongan yang mudah dicerna.

Jika perusahaan Anda ingin mengimplementasikan microlearning secara strategis dalam program L&D, Magnet Solusi Integra menyediakan solusi pengembangan karyawan berbasis microlearning yang dirancang khusus untuk kebutuhan organisasi masa kini hubungi kami dan mulai transformasi pembelajaran di tempat kerja Anda.

Picture of Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog  <strong>CEO</strong>
Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog CEO

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari 20+ tahun di bidang rekrutmen dan pengembangan SDM.

Artikel terbaru
Komentar

Comments are closed.

Bangun SDM Unggul dan Adaptif Secara Tepat Sasaran

Melalui solusi #ElevatingPeopleEmpoweringBusiness, konsultasikan secara gratis bagaimana program kami dapat membantu tim dan perusahaan Anda tumbuh lebih cepat.

Pelajari Arah Transformasi Pengelolaan SDM untuk Penguatan Kinerja Organisasi
Dokumen ini membantu memahami dinamika pengelolaan SDM, budaya organisasi, dan penguatan kapabilitas insan dalam mendukung kinerja organisasi.