Daftar Isi

On-The-Job Training: Pengertian, Proses, & Program

Daftar Isi
Terima insight SDM terbaru, langsung via email mingguan
Newsletter

Dengan klik tombol Berlangganan, saya menyetujui untuk menerima email berita dan pemberitahuan dari Magnet Solusi Integra.

Ikuti akun media sosial resmi Magnet Solusi Integra
on the job training

Setiap kali kita mendengar istilah on-the-job training atau sering disingkat OJT, biasanya yang terbayang di benak adalah seorang karyawan baru yang sedang ikut pelatihan sambil kerja. Ada yang membayangkan seseorang duduk di samping seniornya, lalu memperhatikan cara kerja, mencatat, dan sesekali praktik. Tapi, sesungguhnya OJT lebih dari itu. Ini bukan cuma soal belajar teknis pekerjaan. Di balik istilah yang sederhana ini, ada filosofi yang dalam tentang cara manusia belajar: belajar dengan langsung terjun.

Saya jadi teringat, banyak perusahaan besar, dari dulu hingga sekarang, justru mengandalkan OJT untuk membentuk para karyawannya. Kenapa? Karena pada dasarnya, manusia memang lebih cepat belajar kalau langsung praktik. Apalagi kalau bidangnya menuntut keahlian yang spesifik.

Baca Juga: Onboarding Training: Definisi, Program, & Jadwalnya

on-the-job training

Apa Itu On-The-Job Training Sebenarnya?

Kalau kita ingin bicara definisi formal, on the job training adalah sebuah metode pelatihan di mana seorang karyawan belajar tentang pekerjaannya secara langsung di tempat kerja. Artinya, mereka tidak dikirim dulu ke ruang kelas. Mereka langsung ditempatkan di lapangan, di kantor, di area produksi, atau di lokasi kerja lainnya, lalu dibimbing oleh senior, supervisor, atau mentor yang sudah berpengalaman.

Ini bukan pelatihan yang sekadar teoritis. OJT adalah proses belajar yang nyata, langsung bersentuhan dengan pekerjaan sehari-hari. Di sinilah letak keistimewaannya. Karyawan baru atau bahkan karyawan lama yang dipromosikan bisa belajar dengan cepat karena mereka langsung menjalani ritme kerja.

Dalam OJT, biasanya ada dua elemen penting: learning by doing (belajar sambil melakukan) dan learning by observing (belajar dengan mengamati). Kadang mereka mengamati dulu, baru mencoba. Kadang langsung disuruh mencoba di bawah pengawasan. Semua tergantung jenis pekerjaannya.

Tujuan Utama On The Job Training

Tujuan utama OJT sebenarnya sangat sederhana: mempercepat adaptasi karyawan baru agar bisa langsung bekerja dengan efektif.

Namun, di balik itu, OJT juga menjadi sarana untuk menanamkan budaya kerja perusahaan secara perlahan tapi pasti, tanpa terasa dipaksakan.

1. Mempercepat Adaptasi Karyawan Baru

Lewat OJT, proses adaptasi karyawan baru bisa berjalan lebih cepat. Mereka langsung dikenalkan dengan pekerjaan nyata, tanpa basa-basi teori yang panjang. Ini membuat mereka lebih cepat paham tugasnya, dan segera bisa menjalankan pekerjaan tanpa banyak kebingungan.

2. Menanamkan Budaya Kerja Perusahaan

Tak hanya tentang adaptasi teknis, OJT juga menjadi cara perusahaan memperkenalkan nilai dan budaya kerja. Karyawan baru mulai memahami bagaimana etika di tempat kerja, kebiasaan-kebiasaan di tim, hingga standar perilaku yang dihargai perusahaan. Semua itu dipelajari secara alami selama proses OJT berlangsung.

Keunggulan dan Kelebihan On The Job Training

OJT menjadi metode pelatihan yang populer karena biayanya murah, pelaksanaannya fleksibel, dan hasilnya langsung terasa. Selain itu, OJT juga mempercepat proses belajar, karena peserta langsung menghadapi situasi nyata di tempat kerja mereka.

1. Efisien dari Segi Waktu dan Biaya

OJT memungkinkan perusahaan menghemat biaya pelatihan. Karyawan cukup dilatih di tempat kerja, tanpa perlu biaya tambahan untuk ruangan atau trainer eksternal. Waktunya pun bisa disesuaikan, sehingga tidak mengganggu produktivitas perusahaan secara keseluruhan.

2. Memberikan Pengalaman Belajar yang Realistis

Lewat OJT, karyawan belajar dalam suasana yang nyata, bukan hanya simulasi atau teori. Mereka menghadapi tantangan yang betul-betul terjadi, berinteraksi dengan rekan kerja, dan menyelesaikan masalah yang memang muncul di pekerjaan sehari-hari. Ini membuat hasil pelatihannya terasa lebih nyata.

3. Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Keterlibatan Karyawan

Ketika karyawan mampu menyelesaikan tugas-tugas nyata saat OJT, rasa percaya diri mereka otomatis tumbuh. Selain itu, karena mereka belajar bersama rekan-rekan di tim, keterlibatan mereka dalam organisasi juga meningkat, sehingga rasa kebersamaan pun terbangun secara alami.

Kekurangan dan Risiko On The Job Training

Walaupun efektif, OJT tetap memiliki sejumlah kelemahan. Kualitas pelatihannya bisa berbeda-beda, produktivitas bisa terganggu, dan dalam beberapa industri, risiko keselamatan kerja juga harus diperhatikan secara serius.

1. Kualitas Pelatihan yang Tidak Seragam

Salah satu kelemahan terbesar OJT adalah tidak adanya standar pelatihan yang seragam. Hasil pelatihan bisa sangat bergantung pada siapa mentor atau pelatihnya. Jika mentor tidak sabar atau kurang kompeten, karyawan baru bisa mendapat pelatihan yang setengah matang atau bahkan salah arah.

2. Potensi Gangguan terhadap Produktivitas

Karena mentor harus membagi waktu antara bekerja dan melatih, OJT bisa menurunkan produktivitas sementara. Di saat-saat sibuk, pelatihan semacam ini bahkan bisa mengganggu alur kerja harian, apalagi jika OJT berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

3. Risiko Tekanan Psikologis dan Kecelakaan Kerja

Di beberapa industri, OJT bisa memicu stres pada peserta, terutama jika pekerjaan tersebut rumit dan tuntutannya tinggi. Di sektor seperti tambang atau manufaktur, risiko keselamatan juga harus diwaspadai. Tanpa pengawasan ketat, OJT bisa memicu kecelakaan kerja yang berbahaya.

Baca Juga: Komitmen Kerja Karyawan: Surat, Contoh, & Kuesioner

On The Job Training Interview

Selain proses pelatihannya sendiri, ada juga tahapan yang disebut sebagai on the job training interview. Ini adalah sesi wawancara yang dilakukan sebelum karyawan menjalani OJT, atau setelah OJT selesai sebagai bagian dari evaluasi.

1. Wawancara Sebelum OJT

Sebelum OJT dimulai, perusahaan biasanya melakukan wawancara untuk mengetahui kesiapan peserta. Wawancara ini bertujuan untuk menggali motivasi, pemahaman dasar tentang pekerjaan, serta ekspektasi peserta terhadap program OJT. Di tahap ini, perusahaan ingin memastikan bahwa karyawan yang akan menjalani OJT memang memiliki sikap belajar yang positif.

2. Wawancara Evaluasi Setelah OJT

Setelah OJT selesai, biasanya ada sesi wawancara lanjutan untuk mengevaluasi hasil pelatihan. Di sini, peserta diminta untuk menceritakan pengalamannya selama OJT, apa saja yang sudah dipelajari, serta tantangan yang dihadapi. Wawancara ini menjadi bahan pertimbangan perusahaan untuk menentukan langkah selanjutnya bagi karyawan tersebut.

Bentuk-Bentuk Program yang Umum Digunakan Saat On-The-Job Training

Program On The Job Training bisa dikemas dalam berbagai bentuk, tergantung kebutuhan perusahaan, jenis pekerjaan, serta tujuan pelatihan. Memahami berbagai bentuk program OJT ini penting agar perusahaan bisa memilih metode yang paling efektif dan sesuai dengan kondisi mereka.

1. Job Rotation (Rotasi Pekerjaan)

Job rotation adalah program OJT di mana peserta dipindahkan secara berkala ke beberapa posisi atau departemen berbeda. Tujuannya agar peserta memperoleh pengalaman kerja yang luas dan memahami berbagai fungsi dalam perusahaan. Metode ini efektif untuk pengembangan keterampilan multidimensi dan mengenalkan karyawan pada proses bisnis secara menyeluruh.

Dalam job rotation, karyawan belajar berbagai jenis tugas dalam waktu singkat. Ini membantu mereka mengenali kekuatan dan minat masing-masing, serta meningkatkan fleksibilitas dalam bekerja. Program ini sangat cocok untuk calon manajer atau staf yang diharapkan memiliki wawasan luas tentang perusahaan.

2. Job Shadowing (Pengamatan Kerja)

Job shadowing adalah metode OJT di mana peserta mengikuti dan mengamati langsung aktivitas seorang karyawan berpengalaman dalam pekerjaannya sehari-hari. Peserta tidak langsung terjun, melainkan belajar dengan memperhatikan bagaimana tugas dilakukan, mengambil catatan, dan mengajukan pertanyaan.

Bentuk OJT ini cocok untuk pekerjaan yang kompleks dan memerlukan pemahaman prosedur mendalam sebelum praktik. Job shadowing memberikan gambaran nyata tentang tantangan dan proses kerja tanpa tekanan langsung harus melakukan tugas.

3. Coaching dan Mentoring

Coaching adalah bentuk OJT yang menitikberatkan pada bimbingan intensif dari seorang pelatih atau mentor. Dalam coaching, peserta dibantu secara personal untuk mengembangkan keterampilan tertentu dan mengatasi hambatan yang dihadapi saat bekerja.

Mentoring serupa dengan coaching, namun lebih bersifat jangka panjang dan holistik. Mentor tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membimbing perkembangan karir dan sikap kerja peserta. Kedua bentuk ini efektif untuk pembelajaran yang mendalam dan pengembangan potensi individu.

4. Apprenticeship (Magang Kerja)

Apprenticeship adalah program OJT yang terstruktur dan biasanya berlangsung dalam waktu yang lebih lama, sering kali beberapa bulan hingga tahun. Peserta magang belajar melalui pengalaman langsung di bawah pengawasan ketat, menguasai keterampilan teknis secara bertahap.

Program ini umum di industri seperti manufaktur, teknik, dan kerajinan, di mana keterampilan praktis sangat dibutuhkan dan harus dipelajari secara bertahap. Apprenticeship biasanya juga disertai pelatihan teori sebagai pelengkap.

5. Task Assignment (Penugasan Tugas Khusus)

Dalam task assignment, peserta OJT diberi tugas atau proyek khusus yang sesuai dengan bidang kerja mereka. Dengan mengerjakan tugas nyata ini, peserta belajar langsung menerapkan teori dan keterampilan yang dibutuhkan.

Metode ini efektif untuk melatih kemampuan problem solving dan kemandirian peserta, karena mereka harus menyelesaikan tugas dengan dukungan minimal dari mentor. Cocok untuk peserta yang sudah memiliki dasar pengetahuan tapi butuh pengalaman praktis.

On The Job Training dan Probation

Di banyak perusahaan, OJT sering kali dijalankan bersamaan dengan masa probation atau masa percobaan kerja. Hubungan antara keduanya sangat erat, karena OJT menjadi tolak ukur utama dalam menilai apakah seorang karyawan layak diangkat menjadi karyawan tetap.

1. OJT sebagai Bagian dari Masa Percobaan

Saat masa probation, karyawan baru umumnya langsung menjalani OJT. Ini adalah momen krusial, di mana perusahaan mengamati apakah karyawan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Hasil OJT selama masa probation biasanya menjadi dasar utama untuk menentukan apakah karyawan tersebut akan diterima secara permanen.

2. Evaluasi Kinerja dari Proses OJT

Proses evaluasi selama masa probation sangat bergantung pada hasil OJT. Perusahaan akan menilai kinerja, sikap, kemampuan belajar, dan adaptasi karyawan selama OJT berlangsung. Jika karyawan mampu menunjukkan progres yang baik, biasanya masa probation akan diakhiri dengan pengangkatan sebagai karyawan tetap.

on-the-job training

Banyak perusahaan menghadapi tantangan saat karyawan baru sulit beradaptasi, pelatihan terasa tidak efektif, atau budaya kerja tak kunjung terbentuk.

Padahal, akar masalahnya sering kali terletak pada metode pelatihan yang kurang tepat.

On-the-job training (OJT) bisa menjadi solusi praktis, asalkan dirancang dan diterapkan dengan strategi yang sesuai dengan karakter perusahaan.

Di sinilah Magnet Solusi Integra hadir sebagai mitra Anda. Kami membantu perusahaan menyusun program OJT yang terstruktur, berdampak, dan selaras dengan tujuan bisnis. Ingin tahu bagaimana OJT bisa bekerja lebih optimal di perusahaan Anda?

Hubungi kami sekarang untuk konsultasi gratis.

Picture of Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog  <strong>CEO</strong>
Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog CEO

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari 20+ tahun di bidang rekrutmen dan pengembangan SDM.

Artikel terbaru
Komentar

Comments are closed.

Bangun SDM Unggul dan Adaptif Secara Tepat Sasaran

Melalui solusi #ElevatingPeopleEmpoweringBusiness, konsultasikan secara gratis bagaimana program kami dapat membantu tim dan perusahaan Anda tumbuh lebih cepat.

Pelajari Arah Transformasi Pengelolaan SDM untuk Penguatan Kinerja Organisasi
Dokumen ini membantu memahami dinamika pengelolaan SDM, budaya organisasi, dan penguatan kapabilitas insan dalam mendukung kinerja organisasi.