Work personality test yang dikenal sebagai tes kepribadian kerja dapat digunakan untuk mengevaluasi aspek kepribadian seseorang yang terkait dengan pekerjaan mereka.
Kita mulai dengan satu pertanyaan yang sering terdengar di ruang-ruang HR:
“Perlu nggak sih perusahaan melakukan tes kepribadian ke karyawan atau calon karyawan?”
Sebagian menjawab, “Perlu, supaya tahu cocok atau nggaknya orang ini di tim.”
Sebagian lagi skeptis, “Lho, kan kerja itu soal skill, bukan soal zodiak kepribadian.”
Di sinilah cerita dimulai.
Tentang bagaimana tes kepribadian di tempat kerja bukan sekadar formalitas HR, bukan juga alat sulap yang bisa langsung membaca masa depan karier seseorang.
Tapi ia bisa menjadi cermin yang kalau dipakai dengan tepat, bisa membantu perusahaan memahami manusianya lebih dalam.
Baca Juga: 10 Bentuk Diskriminasi Kerja Pada Usia, Tempat & Lowongan!

Apa Itu Work Personality Test?
Kita bahas dulu dari dasar.
Work personality test adalah alat psikologis yang digunakan untuk mengevaluasi karakteristik kepribadian seseorang yang relevan dengan dunia kerja.
Tujuannya bukan untuk menilai siapa yang “baik” atau “buruk” tapi untuk memahami bagaimana seseorang berpikir, berinteraksi, dan merespons tantangan di dunia kerja.
Jenis tesnya beragam. Yang paling sering dipakai di dunia HR antara lain:
Tes ini bertujuan untuk memahami pola kecenderungan psikologis seseorang, termasuk cara berpikir, merespons situasi, berinteraksi dengan orang lain, serta preferensi kerja yang mungkin tidak terlihat secara eksplisit melalui kinerja teknis atau riwayat pekerjaan.
Berbeda dengan tes intelegensi atau tes kompetensi teknis, tes kepribadian tidak berfokus pada kemampuan atau keterampilan spesifik, melainkan pada disposisi psikologis yang relatif stabil, seperti ekstraversi, keterbukaan terhadap pengalaman, stabilitas emosional, dan gaya interpersonal.
Hasil dari tes ini memberikan insight yang mendalam mengenai bagaimana seseorang kemungkinan besar akan bertindak dalam situasi kerja tertentu.
Kenapa Tes Kepribadian Penting di Tempat Kerja?
Kalau semua orang bekerja hanya dengan logika dan angka, mungkin kita nggak butuh tes kepribadian.
Tapi faktanya, tempat kerja itu dunia manusia penuh ego, emosi, ekspektasi. Di situlah kepribadian memainkan peran yang diam-diam sangat besar.
1. Membangun Tim yang Komplementer
Bayangkan kamu punya satu tim isi orang-orang yang semua suka tampil di depan, bicara keras, penuh ide. Keren, tapi apakah semua proyek butuh tipe orang seperti itu? Nggak juga.
Kadang justru dibutuhkan si pendiam yang teliti, yang membaca detail, yang berpikir pelan tapi dalam.
Tes kepribadian membantu HR atau team leader untuk tahu siapa yang cocok kerja bareng siapa. Bukan soal cocok dalam arti “klik”, tapi dalam arti “saling melengkapi”.
2. Mengurangi Konflik yang Tak Perlu
Sebagian konflik kerja bukan karena orang jahat atau nggak profesional. Tapi karena beda cara melihat dunia.
Si A tipe berpikir cepat dan langsung, si B tipe analitis dan hati-hati.
Tanpa pemahaman kepribadian, mereka bisa saling frustrasi. Tapi kalau mereka tahu perbedaan itu, kerja bareng jadi lebih saling menghargai.
3. Membantu Pengambilan Keputusan HR
Dalam rekrutmen, promosi, rotasi, hingga pengembangan karier, tes kepribadian bisa jadi pertimbangan tambahan.
Misalnya, apakah seseorang siap memimpin? Apakah dia punya resiliensi dalam tekanan? Apakah dia punya gaya kepemimpinan yang sesuai dengan budaya perusahaan?
Tentu ini tidak bisa jadi satu-satunya dasar.
Tapi kalau digabungkan dengan data objektif lain (performance, kompetensi, dsb), hasilnya bisa lebih kaya.
Kesalahan Umum dalam Menggunakan Tes Kepribadian
Nah, ini yang perlu diwaspadai. Tes kepribadian itu alat bantu. Tapi sering kali disalahgunakan seperti alat utama. Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
1. Menjadikan Hasil Tes sebagai Label Tetap
Orang sering menganggap hasil tes kepribadian itu seperti label permanen.
Padahal manusia itu dinamis.
Seseorang bisa terlihat sangat extrovert saat di luar kerja, tapi sangat tertutup dalam setting formal. Kepribadian itu kontekstual dan bisa berkembang.
Tes hanya menangkap potret saat itu.
2. Menggunakannya Sebagai Alat Seleksi Satu-satunya
Pernah ada kasus perusahaan menolak kandidat hanya karena hasil tes.
Alasannya, “Kami butuh pemimpin.”
Masalahnya, gaya dari salah satu hasilnya bukan satu-satunya gaya memimpin.
Banyak pemimpin hebat yang justru Influence atau Steadiness. Fokus ke hasil tes saja tanpa melihat kompetensi nyata bisa jadi jebakan.
3. Tidak Memberikan Feedback ke Peserta
Ini yang paling menyedihkan. Karyawan atau kandidat sudah isi tes panjang-panjang, tapi nggak pernah tahu hasilnya.
Bahkan HR-nya pun kadang nggak tahu maksudnya.
Padahal, feedback dari tes kepribadian bisa jadi bahan refleksi dan pengembangan diri.
Memberi tahu hasilnya (dengan cara yang etis dan proporsional) justru memperlihatkan bahwa perusahaan menghargai potensi karyawannya.
Baca Juga: Ketahui Pengukuran Waktu Kerja Dengan Langsung & Tidak!
Bagaimana Cara Menggunakannya dengan Benar?
1. Gunakan Sebagai Alat Pengayaan, Bukan Penentu
Gunakan hasil tes sebagai bahan diskusi, bukan vonis.
Misalnya: “Dari hasil ini, kamu terlihat lebih dominan di area thinking dan judging. Tapi kamu juga punya kapasitas feeling yang bisa dikembangkan.”
Diskusi seperti ini lebih sehat dibanding sekadar, “Kamu tipe XXXX, berarti kamu cocok di back office saja.”
2. Kombinasikan dengan Alat Lain
Assessment yang baik selalu bersifat multi-instrumen.
Tes kepribadian bisa dikombinasikan dengan behavioral interview, simulasi kerja (assessment center), hingga review atasan langsung.
Tujuannya bukan mencari nilai sempurna, tapi pemahaman yang utuh tentang seseorang.
3. Libatkan Profesional Psikologi
Kalau memungkinkan, gunakan jasa psikolog industri atau konsultan SDM yang paham cara membaca dan menyampaikan hasil tes kepribadian.
Karena cara menyampaikan sangat mempengaruhi dampaknya.
Bahasa yang salah bisa membuat peserta merasa “diadili”, padahal tujuannya bukan itu.

Work personality test sering menjadi salah satu komponen penting dalam rangkaian assessment center, karena memberikan gambaran yang melengkapi hasil observasi perilaku dalam simulasi kerja.
Melalui kombinasi antara data kuantitatif dari tes kepribadian dan data kualitatif dari dinamika assessment center seperti role play, in-basket exercise, dan group discussion, organisasi dapat memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai potensi, gaya kerja, dan kecocokan individu terhadap peran tertentu.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan akurasi dalam pengambilan keputusan talent management, tetapi juga memperkuat komitmen organisasi terhadap pengembangan karyawan berbasis data.
Magnet Solusi Integra menyediakan layanan assessment center profesional yang terintegrasi dengan work personality test, lengkap dengan interpretasi ahli dan rekomendasi pengembangan individu.
Klik gambar di atas untuk memesan sesi konsultasi gratis dan mulai membangun strategi pengelolaan SDM yang lebih efektif.