Daftar Isi

Penjelasan Blue Collar Worker Beserta Jenis Pekerjaannya

Daftar Isi
Terima insight SDM terbaru, langsung via email mingguan
Newsletter

Dengan klik tombol Berlangganan, saya menyetujui untuk menerima email berita dan pemberitahuan dari Magnet Solusi Integra.

Ikuti akun media sosial resmi Magnet Solusi Integra
blue collar worker

Setiap pagi, sebelum mesin absensi kantor berbunyi, ada orang-orang yang sudah lebih dulu bekerja.

Bajunya tidak selalu rapi. Tangannya sering kotor.
Tapi dari merekalah banyak urusan bisa berjalan. Pabrik beroperasi.

Bangunan berdiri. Barang sampai tujuan. Mereka jarang disebut dalam laporan manajemen, tapi tanpa mereka, laporan itu tidak pernah ada.

Di dunia kerja, merekalah yang dikenal sebagai blue collar worker.

Baca Juga: Perencanaan Tenaga Kerja (Manpower Planning) Dalam HR

blue collar worker

Apa Itu Blue Collar Worker?

Istilah blue collar worker sering terdengar di dunia kerja, tetapi maknanya kerap dipahami secara dangkal. Padahal, istilah ini memiliki konteks historis, ekonomi, dan sosial yang panjang. Dalam praktik ketenagakerjaan modern, blue collar worker merujuk pada kelompok pekerja yang menjalankan tugas berbasis aktivitas fisik, operasional lapangan, dan keterampilan teknis praktis.

Secara umum, blue collar worker menerima upah berdasarkan jam kerja atau hari kerja, bukan gaji tetap bulanan. Pola ini lazim ditemukan pada sektor manufaktur, konstruksi, logistik, hingga layanan pendukung operasional. Model kerja seperti ini membuat peran blue collar worker sangat bergantung pada keberlangsungan aktivitas produksi dan operasional harian.

Istilah “kerah biru” sendiri pertama kali digunakan pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat, ketika pekerja lapangan identik dengan kemeja denim biru yang tahan kotor dan aus. Dari simbol pakaian kerja inilah, istilah blue collar berkembang menjadi klasifikasi pekerjaan yang digunakan secara global hingga hari ini.

Perbedaan Blue Collar dan White Collar Worker

Dalam klasifikasi ketenagakerjaan, blue collar worker hampir selalu dibandingkan dengan white collar worker. Keduanya merepresentasikan pendekatan kerja yang berbeda, bukan tingkat kepentingan yang berbeda.

White collar worker umumnya bekerja di lingkungan perkantoran dengan fokus pada fungsi administratif, analitis, manajerial, atau profesional. Mereka menerima gaji tetap bulanan dan menjalankan pekerjaan yang minim aktivitas fisik. Sebaliknya, blue collar worker menjalankan pekerjaan yang menuntut keterlibatan fisik langsung dan kehadiran di lokasi kerja.

Perbedaan utama keduanya terletak pada sifat pekerjaan, pola pengupahan, dan lingkungan kerja, bukan pada nilai kontribusi. Dalam banyak industri, keberhasilan fungsi white collar justru bergantung pada eksekusi yang dilakukan oleh blue collar worker di lapangan.

Pandangan Terhadap Industri Pekerjaan

Secara sosial, pekerjaan white collar sering dianggap lebih prestisius. Persepsi ini tumbuh seiring perkembangan ekonomi berbasis jasa dan administrasi. Pekerjaan kantor dipandang lebih stabil, bersih, dan menjanjikan mobilitas sosial yang lebih tinggi.

Sebaliknya, pekerjaan blue collar kerap diposisikan sebagai pekerjaan berat yang kurang diminati. Padahal, sektor industri, manufaktur, dan konstruksi tetap menjadi tulang punggung perekonomian. Tanpa tenaga kerja lapangan, rantai pasok, produksi, dan pembangunan fisik tidak akan berjalan.

Persepsi sosial ini lebih mencerminkan perubahan nilai masyarakat, bukan realitas kontribusi ekonomi yang sesungguhnya.

Pendidikan

Perbedaan latar belakang pendidikan juga sering menjadi pembeda antara blue collar dan white collar worker. Banyak posisi white collar mensyaratkan pendidikan formal tingkat sarjana atau sertifikasi profesional tertentu.

Sebaliknya, blue collar worker lebih mengandalkan pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan pengalaman lapangan. Kompetensi mereka berkembang melalui praktik langsung, bukan hanya teori. Dalam konteks industri modern, keterampilan teknis seperti ini justru menjadi aset yang sulit digantikan oleh otomatisasi penuh.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan formal dan pendidikan keterampilan memiliki peran yang sama pentingnya dalam sistem ketenagakerjaan.

Pakaian Kerja

Asal-usul istilah blue collar dan white collar tidak terlepas dari pakaian kerja. Blue collar worker menggunakan pakaian kerja yang dirancang untuk aktivitas fisik berat, berwarna gelap, dan tahan terhadap kondisi lingkungan kerja yang keras.

Sebaliknya, white collar worker identik dengan pakaian formal berwarna terang karena bekerja di lingkungan yang relatif bersih dan aman. Perbedaan pakaian ini mencerminkan kebutuhan kerja, bukan perbedaan status intrinsik.

Dalam konteks modern, pakaian kerja tetap menjadi simbol lingkungan dan risiko kerja yang dihadapi masing-masing kelompok pekerja.

Kelas Sosial

Seiring waktu, istilah kerah juga diasosiasikan dengan kelas sosial. White collar worker sering dianggap memiliki status ekonomi lebih tinggi karena pendapatan yang relatif stabil dan jenjang karier yang jelas.

Namun, anggapan bahwa blue collar worker berada di kelas sosial yang lebih rendah tidak sepenuhnya akurat. Banyak pekerja kerah biru memiliki pendapatan kompetitif, terutama pada sektor dengan keterampilan teknis tinggi. Perbedaan status sosial lebih dipengaruhi oleh persepsi publik daripada realitas ekonomi aktual.

Contoh Pekerjaan Blue Collar

Berikut beberapa contoh pekerjaan yang secara umum dikategorikan sebagai blue collar worker dan masih sangat relevan dalam struktur industri saat ini.

1. Tukang Ledeng

blue collar worker

Tukang ledeng menjalankan pekerjaan teknis yang berkaitan dengan instalasi dan pemeliharaan sistem air. Meskipun tidak selalu membutuhkan pendidikan formal tinggi, profesi ini menuntut keahlian teknis yang presisi dan pengalaman lapangan.

2. Sopir Truk

blue collar worker

Sopir truk berperan penting dalam sistem distribusi dan logistik nasional. Tanggung jawab mereka mencakup keselamatan barang, ketepatan waktu, dan kepatuhan terhadap regulasi transportasi.

3. Buruh Pabrik

blue collar worker

Buruh pabrik menjadi bagian inti dari proses produksi. Dengan persyaratan pendidikan yang relatif terjangkau, pekerjaan ini tetap menuntut kedisiplinan tinggi, ketahanan fisik, dan kepatuhan pada standar operasional.

4. Pekerja Bangunan

blue collar worker

Pekerja bangunan terlibat langsung dalam proses pembangunan infrastruktur dan properti. Aktivitas mereka menuntut kekuatan fisik, kerja tim, dan ketelitian dalam kondisi kerja yang berisiko.

5. Office Boy (OB)

blue collar worker

Office boy menjalankan fungsi pendukung operasional kantor, mulai dari kebersihan hingga logistik internal. Meskipun sering dianggap sederhana, peran ini menjaga efisiensi aktivitas kerja sehari-hari.

Baca Juga: Istilah “Shortlisted” Dalam Rekrutmen & Seleksi Karyawan

Jenis Golongan Pekerjaan Berdasarkan Warna Kerah

Selain blue collar dan white collar, terdapat klasifikasi warna kerah lain yang digunakan untuk menggambarkan karakteristik pekerjaan.

Red collar merujuk pada pekerja luar ruang, black collar pada sektor pertambangan, pink collar pada profesi layanan, yellow collar pada industri kreatif, green collar pada sektor energi berkelanjutan, dan gray collar pada pekerja pascapensiun.

Klasifikasi ini membantu memahami kompleksitas dunia kerja modern yang tidak lagi dapat disederhanakan hanya dalam dua kategori.

Mencari blue collar worker yang tepat bukan sekadar mengisi posisi kosong, tapi memastikan operasional berjalan tanpa hambatan, produktivitas terjaga, dan risiko kerja bisa ditekan sejak awal.

Banyak perusahaan tertarik merekrut cepat, tapi lupa bahwa ketidaktepatan seleksi justru mahal biayanya turnover tinggi, kecelakaan kerja, hingga target produksi yang meleset.

blue collar worker

Di sinilah layanan rekrutmen dan seleksi SDM yang terstruktur menjadi penting: membantu perusahaan menyaring kandidat bukan hanya dari tenaga fisiknya, tetapi dari kedisiplinan, kesiapan kerja, dan kecocokan dengan kebutuhan lapangan.

Dengan proses rekrutmen yang tepat sejak awal, perusahaan tidak hanya mendapatkan pekerja, tetapi fondasi operasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Picture of Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog  <strong>CEO</strong>
Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog CEO

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari 20+ tahun di bidang rekrutmen dan pengembangan SDM.

Artikel terbaru
Komentar

Comments are closed.

Bangun SDM Unggul dan Adaptif Secara Tepat Sasaran

Melalui solusi #ElevatingPeopleEmpoweringBusiness, konsultasikan secara gratis bagaimana program kami dapat membantu tim dan perusahaan Anda tumbuh lebih cepat.

Pelajari Arah Transformasi Pengelolaan SDM untuk Penguatan Kinerja Organisasi
Dokumen ini membantu memahami dinamika pengelolaan SDM, budaya organisasi, dan penguatan kapabilitas insan dalam mendukung kinerja organisasi.