Daftar Isi

Hierarchical Task Analysis: Definisi, Contoh, & Diagram

Daftar Isi
Terima insight SDM terbaru, langsung via email mingguan
Newsletter

Dengan klik tombol Berlangganan, saya menyetujui untuk menerima email berita dan pemberitahuan dari Magnet Solusi Integra.

Ikuti akun media sosial resmi Magnet Solusi Integra
hierarchical task analysis

Ada satu hal menarik yang sering saya amati dalam dunia kerja, terutama saat menangani perusahaan yang sedang berbenah sistemnya. Banyak pimpinan mengeluh: “Kenapa karyawan saya lambat sekali mengambil keputusan?” atau “Mengapa tugas sederhana bisa jadi rumit ketika sampai ke lapangan?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan sekadar masalah skill gap atau motivasi kerja. Sering kali, masalahnya terletak pada cara kita memetakan pekerjaan itu sendiri. Di sinilah Hierarchical Task Analysis (HTA) hadir bukan sekadar alat analisis, tapi cara berpikir yang menuntun kita memahami bagaimana manusia menyelesaikan pekerjaannya langkah demi langkah.

HTA membantu kita “membedah” aktivitas kompleks menjadi urutan tindakan yang lebih kecil, lebih logis, dan bisa diukur. Dalam praktik konsultasi SDM, HTA ibarat peta jalan: bukan hanya menunjukkan apa yang dilakukan seseorang, tapi juga mengapa dan bagaimana proses itu berlangsung. Dengan pendekatan yang humanis, HTA bukan tentang mengontrol manusia melainkan memahami cara terbaik agar sistem kerja berpihak pada manusia.

Baca Juga: Workload Analysis: Simak Arti, Contoh & Metodenya

hierarchical task analysis

Apa Itu Hierarchical Task Analysis?

Hierarchical Task Analysis atau HTA adalah metode sistematis untuk memecah suatu pekerjaan kompleks menjadi urutan tujuan dan tindakan yang lebih kecil. Dalam bahasa sederhana, HTA membantu kita memahami struktur logis di balik perilaku kerja manusia. Dengan HTA, pekerjaan yang semula tampak rumit bisa dipetakan menjadi langkah-langkah yang terukur, sehingga memudahkan evaluasi dan perbaikan.

HTA berangkat dari prinsip bahwa setiap tugas memiliki hierarki tujuan ada main goal (tujuan utama) yang dipecah menjadi sub-goals dan operations. Metode ini awalnya digunakan di bidang human factors dan psikologi industri, tetapi kini telah menjadi alat penting dalam pelatihan karyawan, desain antarmuka pengguna (user interface), hingga pengembangan sistem kerja yang lebih efisien.

Dalam konteks SDM, HTA dapat digunakan untuk mengidentifikasi titik-titik hambatan dalam proses kerja, memperbaiki alur komunikasi antarbagian, atau merancang pelatihan yang sesuai dengan tahapan tugas sebenarnya. Hasil akhirnya bukan hanya efisiensi, melainkan juga peningkatan kualitas keputusan dan kepuasan kerja karyawan.

Hierarchical Task Analysis Menurut Ahli

Para ahli telah memberikan berbagai definisi dan perspektif tentang HTA, namun semuanya berangkat dari ide yang sama: memahami pekerjaan manusia secara sistematis.

Menurut Annett & Duncan (1967), HTA adalah teknik analisis yang memecah tujuan kompleks menjadi sub-tujuan dan langkah-langkah operasional yang membentuk hierarki. Dengan cara ini, organisasi dapat melihat bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga bagaimana dan mengapa sesuatu dilakukan.

Sementara Stanton (2006) menekankan bahwa HTA adalah alat untuk memahami hubungan antar-tugas dan antar-manusia dalam sistem kerja. Ia melihat HTA bukan sekadar alat analisis, melainkan jembatan yang menghubungkan perilaku manusia dengan struktur organisasi.

Sedangkan Kirwan & Ainsworth (1992) melihat HTA dari perspektif keselamatan kerja. Menurut mereka, pemetaan tugas yang detail membantu mencegah kesalahan manusia, terutama di lingkungan berisiko tinggi seperti penerbangan, manufaktur, atau rumah sakit.

Dari para ahli ini kita belajar satu hal penting: HTA bukan hanya untuk menemukan kesalahan, melainkan untuk membangun sistem kerja yang human-centered sistem yang memahami manusia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana seharusnya menurut buku panduan.

Diagram Hierarchical Task Analysis

hierarchical task analysis diagram

Secara visual, HTA sering digambarkan dalam bentuk diagram pohon di mana tujuan utama berada di bagian atas, lalu bercabang ke serangkaian sub-tugas yang lebih kecil. Setiap cabang menunjukkan hubungan “bagaimana cara mencapai” tujuan dari cabang sebelumnya.

Bayangkan sebuah contoh sederhana: tujuan utama adalah melayani pelanggan dengan cepat di meja kasir. Maka diagramnya akan terlihat seperti ini (secara konseptual):

  • Tujuan: Melayani pelanggan di kasir
    • Sub-tugas 1: Menyapa pelanggan
    • Sub-tugas 2: Memindai barang belanja
    • Sub-tugas 3: Menginformasikan total harga
    • Sub-tugas 4: Menerima pembayaran
    • Sub-tugas 5: Memberikan struk dan ucapan terima kasih

Setiap sub-tugas itu bisa diurai lagi. Misalnya, “menerima pembayaran” bisa dipecah menjadi: menerima uang tunai atau kartu, memverifikasi nominal, memberikan kembalian, dan seterusnya. Dari struktur inilah kita bisa melihat logika kerja yang seringkali tersembunyi dalam rutinitas harian.

Langkah-Langkah Melakukan Hierarchical Task Analysis

1. Menentukan Tujuan Utama

Langkah pertama adalah mendefinisikan apa yang menjadi goal utama dari pekerjaan atau sistem yang ingin dianalisis. Tujuan ini harus jelas dan terukur, misalnya: “memproses pesanan pelanggan dalam waktu di bawah 3 menit.”

2. Mengumpulkan Informasi Tugas

Informasi diperoleh melalui observasi langsung, wawancara karyawan, atau analisis dokumen kerja. Tahapan ini menuntut sensitivitas humanis karena yang diobservasi bukan sekadar prosedur, melainkan manusia yang menjalankan prosedur itu dengan ritme dan tekanan tertentu.

3. Menguraikan Tugas Menjadi Sub-tugas

Setelah data terkumpul, analis mulai memecah tugas utama ke dalam langkah-langkah yang lebih kecil. Setiap sub-tugas kemudian diberi nomor atau kode hierarkis (misalnya 1.1, 1.2, 1.3) agar keterkaitan antarbagian mudah dilacak.

4. Menyusun Diagram Hierarki

Pada tahap ini, hasil uraian dituangkan dalam diagram yang menunjukkan struktur keseluruhan proses kerja. Visualisasi ini membantu tim lintas departemen untuk memahami alur kerja secara cepat dan menemukan area perbaikan.

5. Validasi Bersama Tim

HTA bukan dokumen statis. Ia harus divalidasi bersama karyawan atau supervisor yang menjalankan pekerjaan tersebut setiap hari. Validasi ini memastikan bahwa analisis tidak sekadar teoritis, tapi mencerminkan realitas di lapangan.

Contoh Penerapan Hierarchical Task Analysis

Misalkan dalam konteks customer service di perusahaan teknologi. Tujuan utamanya adalah “menyelesaikan tiket pelanggan dengan efektif.”

Dari tujuan ini, HTA bisa diuraikan sebagai berikut:

  1. Membuka tiket dan membaca detail masalah.
  2. Mengidentifikasi kategori masalah.
  3. Memeriksa solusi di basis data internal.
  4. Memberikan respons ke pelanggan.
  5. Menutup tiket dan melakukan follow-up.

Ketika setiap langkah ini dievaluasi, ternyata ditemukan bahwa banyak waktu terbuang di langkah kedua karena sistem kategorisasi terlalu rumit. Solusinya? Mendesain ulang antarmuka agar auto-tagging bisa dilakukan oleh sistem berbasis AI.

Inilah nilai strategis HTA: bukan hanya menggambarkan tugas, tapi juga membuka jalan untuk inovasi dan perbaikan kinerja berbasis data.

Baca Juga: Competency Mapping: Model, Metode, & Contohnya

Kelebihan dan Keterbatasan Hierarchical Task Analysis

HTA memiliki sejumlah kelebihan yang menjadikannya unggul dibanding metode analisis tugas lainnya. Ia sederhana, logis, dan mudah dipahami oleh tim lintas fungsi. Di sisi lain, pendekatan ini juga menuntut waktu dan ketelitian tinggi karena setiap detail langkah harus terpetakan dengan akurat.

Namun, keterbatasannya tidak membuat metode ini usang. Justru dengan integrasi teknologi seperti process mining dan AI-based workflow analysis, HTA kini menjadi jembatan antara dunia manusia dan sistem digital antara intuisi pekerja dan logika mesin.

Integrasi Hierarchical Task Analysis dalam Konsultasi SDM

Dalam konteks konsultasi SDM, Hierarchical Task Analysis bisa menjadi titik awal yang sangat kuat untuk berbagai inisiatif organisasi: dari job redesign, pengembangan pelatihan, hingga restrukturisasi organisasi.

Magnet Solusi Integra, sebagai konsultan SDM profesional, menggunakan pendekatan analitis seperti HTA untuk membantu klien memahami akar produktivitas bukan hanya gejalanya. Dengan pendekatan yang humanis dan berbasis data, kami membantu organisasi menata ulang alur kerja, memperjelas tanggung jawab, dan meningkatkan efisiensi tim tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Jika Anda ingin melihat bagaimana satu langkah kecil di meja kerja bisa memengaruhi kinerja seluruh organisasi, mungkin ini saatnya membuka diagram HTA bersama kami. Karena di balik setiap proses yang tertata, ada manusia yang lebih bahagia dan produktif menjalankan perannya.

hierarchical task analysis

Apakah Anda ingin organisasi Anda berjalan lebih efisien, harmonis, dan bebas dari tumpang tindih pekerjaan? Mari mulai dari analisis sederhana tapi berdampak besar. Hubungi Magnet Solusi Integra hari ini kami bantu Anda menata ulang sistem kerja, bukan hanya untuk meningkatkan kinerja, tapi juga menumbuhkan rasa makna di tempat kerja. Karena di dunia kerja modern, efisiensi tanpa kemanusiaan hanyalah mesin tanpa jiwa.

Picture of Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog  <strong>CEO</strong>
Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog CEO

Praktisi HR dengan pengalaman lebih dari 20+ tahun di bidang rekrutmen dan pengembangan SDM.

Artikel terbaru
Komentar

Comments are closed.

Bangun SDM Unggul dan Adaptif Secara Tepat Sasaran

Melalui solusi #ElevatingPeopleEmpoweringBusiness, konsultasikan secara gratis bagaimana program kami dapat membantu tim dan perusahaan Anda tumbuh lebih cepat.

Pelajari Arah Transformasi Pengelolaan SDM untuk Penguatan Kinerja Organisasi
Dokumen ini membantu memahami dinamika pengelolaan SDM, budaya organisasi, dan penguatan kapabilitas insan dalam mendukung kinerja organisasi.